Genap Setahun Tinggal di Australia

85
views

10 MARET 2022. Genap hari ini, berdiam dan–tanpa diduga-duga bisa–setahun tinggal di Australia.

Apakah memang direncanakan demikian sejak awal? Hmm … antara iya, dan tidak. Karena saya sendiri pun tidak menyangka, dari yang awalnya hanya memiliki satu tujuan utama; berhasil masuk ke Australia agar dapat bertemu dengan tunangan, bisa melangsungkan pernikahan, dan menuntaskan segala proses administrasinya di sini, akhirnya malah bertahan sampai setahun, terus menjalankan kehidupan sebagaimana biasanya dalam status serta situasi yang berbeda.

Jika diringkas, alurnya kurang lebih seperti ini.

  1. Dikabari bisa masuk Australia – 5 Maret 2021
  2. Tiba di Sydney – 10 Maret 2021
  3. Menjalani karantina selama 14 hari di Sydney (ini daftar lengkap makanan selama karantina)
  4. Tiba di Melbourne akhir Maret 2021
  5. Menikah di Melbourne – 10 April 2021

Kemudian melanjutkan kehidupan di Melbourne sampai sekarang, berusaha menjalaninya dengan sebaik mungkin sebagai seorang suami; sebagai seorang anak dan menantu; sebagai seorang karyawan; sebagai seorang sukarelawan; sebagai seorang pekerja lepas; sebagai seorang kawan; sebagai seorang imigran; maupun sebagai seorang Warga Negara Indonesia (WNI).

Dalam hal ini, saya merasa yang terjadi ialah kombinasi dari ketidakpastian-ketidakpastian dan keberuntungan yang meleluasakan, terlebih di tengah situasi pandemi yang terus berkembang pada saat itu. Sebagai gambaran, ada satu waktu setelah kami berhasil menikah, muncul pertanyaan: “What would you do next?” Apa rencana selanjutnya? Apa yang akan dilakukan setelah ini?

Bersamaan dengan itu juga, ada pertanyaan dari kantor di Jakarta: “Kapan kira-kira pulang ke Jakarta? Pasti balik, kan?

Ketika itu, respons yang bisa terpikirkan adalah: “Sepertinya bakal balik ke Indonesia di bulan Juli atau Agustus,” lantaran beberapa pertimbangan. Mulai dari masa berlaku visa yang sedang digunakan, situasi COVID-19 di Indonesia dan di Australia, termasuk perkembangan program vaksinasi di kedua negara, dan sebagainya.

Ternyata, tidak jadi, dan tidak perlu segera balik ke Indonesia saat itu. Syukurlah (?) 😅

Seiring waktu berlalu, kehidupan berjalan sebagaimana adanya saat tinggal di Australia. Menjalani keseharian, bekerja; berkolaborasi mengurus rumah dan rumah tangga; menghadapi dan berupaya menyelesaikan masalah-masalah yang muncul; terus mendiskusikan dan menyusun rencana-rencana; sembari melakukan hal-hal administratif yang berlaku bagi warga setempat; serta tidak lupa untuk tetap berusaha bersenang-senang semampunya.

… dan di momen ini, tepat setahun tinggal di Australia, saya kepingin menandainya dengan berbagi sejumlah cerita. Cerita dari sudut pandang seseorang yang enggak pernah terbayang akan tinggal cukup lama di negara lain, bukan untuk bekerja (karena masih berkantor di Jakarta), bukan pula untuk menjadi mahasiswa apalagi penerima beasiswa. Cuma kepingin cerita, walaupun durasi tinggal di Australia belum sepanjang banyak orang Indonesia lain di sini.

Tentang Kota Melbourne

Terlepas dari predikatnya sebagai salah satu kota utama di dunia, kota Melbourne dan pusat kota Melbourne (Central Business District–CBD), terkesan relatif lengang dan memiliki siklus denyut kehidupan harian. Keramaian sehari-hari terjadi di waktu pagi dan sore; waktu berangkat dan pulang. Baik pejalan kaki, pengendara sepeda atau skuter listrik maupun papan seluncur, pengguna kendaraan pribadi, dan pengguna transportasi massal publik seperti trem, bus, dan kereta listrik.

Hiruk pikuk harian berangsur reda sejak pukul 7 malam, dan terus menyurut. Mulai jam tersebut, ruas-ruas CBD kian sepi. Pertokoan dan pusat perbelanjaan menutup pintu bahkan mulai pukul 6 sore. Sejumlah tunawisma, secara individual maupun berkelompok, sudah menata alas tidur dan bed cover mereka di emperan-emperan toko yang dirasa aman dari terpaan angin atau hujan. Selebihnya, bisa ditemui 1, 2, atau 3 orang tunawisma tanpa “harta benda” yang keluyuran tidak tentu arah dengan perangai mirip orang mabuk, entah mabuk alkohol atau zat lainnya.

Secara teknis dan legal, mereka (para tunawisma) berhak untuk begitu. Bukan berarti pemerintah setempat membiarkan mereka tanpa pemeliharaan atau langkah-langkah sejenis, melainkan mereka berhak untuk menggelandang atau dalam penanganan keluarga masing-masing selama tidak melakukan pelanggaran hukum, gangguan ketertiban berdampak langsung, maupun situasi-situasi tertentu. Misalnya, saat pandemi COVID-19 masih kritis dan lockdown ketat diberlakukan, pemerintah setempat menyewa gedung-gedung hotel dan apartemen sebagai tempat hunian lockdown bagi para tunawisma dan gelandangan tersebut. Mereka mendapatkan akomodasi, pengawasan terkait kesejahteraan harian, kesehatan dan makanan secara gratis selama berbulan-bulan.

Tidak hanya itu, banyak organisasi kemasyarakatan yang rutin berkeliling setiap pekan untuk membagikan makan malam gratis kepada para tunawisma. Hampir semuanya digerakkan oleh volunter.

Kembali ke situasi kota di malam hari. Restoran pada umumnya tetap beroperasi sampai pukul 9 malam, dan beberapa di antaranya lebih larut, bahkan sampai 24 jam, seperti Macca’s (sebutan McDonald’s di Australia). Begitu pun bar atau tempat ngebir yang tersebar di seantero kota. Tidak berisik, tidak terlalu riuh di hari kerja. Di samping itu, setidaknya tetap ada beberapa jaringan toko swalayan yang beroperasi 24 jam dan cukup mudah ditemui: 7-Eleven, dan CT Mart yang terkenal dengan kopi $1-nya, maupun EzyMart. Selebihnya, dalam situasi-situasi tertentu, keramaian malam hari di weekdays bisa juga terlihat di gedung-gedung pertunjukan, galeri seni, arena konser luar ruangan, atau areal bioskop terbuka.

Berbeda di hari akhir pekan, saat libur nasional (yang beberapa di antaranya didedikasikan untuk pertandingan olahraga, dan bisa dijadikan ajang taruhan), atau di hari-hari tertentu saat ada festival, acara khusus, dan sebagainya, lebih banyak orang yang datang ke CBD. Sebagian besarnya adalah warga berbagai suburb atau kota-kota sekitar. Keramaian berlangsung lebih lama, ditambah dengan kelab-kelab malam yang musiknya berdentum hingga lepas pukul 3 pagi.

Tentang Transportasi di Kota Melbourne

Merasakan setahun tinggal di Melbourne, dan terutama karena menetap di kawasan city, bikin males punya mobil atau kendaraan pribadi. Selain cukup susah parkir, ongkos parkir yang cenderung tidak murah, biaya administrasi kepemilikan kendaraan juga tinggi, serta dimanjakan dengan akses transportasi massal umum yang gratis secara terbatas, khususnya trem dalam lingkar kota yang sebenarnya juga enggak jauh-jauh banget untuk dibawa jalan kaki.

Di samping itu pun, tersedia pilihan kendaraan umum individual biasa (taksi, atau taksi daring), dan yang bisa disewa per jam. Sebelumnya ada sepeda, dan mulai Februari 2022 ditambah dengan dua jenama skuter listrik. Lumayan lah sebagai alternatif.

Kecuali bila tinggal di kota-kota luar Melbourne, atau bila bekerja di luar kota Melbourne, rasa-rasanya enggak perlu-perlu banget untuk punya mobil.

Tentang Makanan di Kota Melbourne

Sejauh ini, saya membaginya ke dalam dua kategori besar: Makanan Indonesia atau Asia, dan makanan orang bule. Kebanyakan, rasanya … ya begitulah …. Namanya juga selera. Subjektif dan personal. Termasuk perkara sambal, salah satunya. Sekadar cukup 😅. Apalagi, belum pernah berhasil menemukan cabai yang nggeunah pedasnya. Bird eye chili, yang sudah tergolong paling pedas di sini, terasa medioker. Tampak cantik dengan permukaan kulit yang mulus, memang, tidak seperti cabai kecil merah yang selama ini bisa kita temui di Indonesia, penuh kerutan. Anyway

Secara harga, makanan Indonesia atau Asia pada umumnya cenderung terhitung lebih mahal dibanding yang selama ini saya temui (di luar Australia). Sementara makanan bule, rata-rata harganya justru lebih masuk akal. Hal yang sama juga terjadi pada kopi. Rata-rata harga secangkir kopi berbasis espreso di kedai kopi kota-kota besar Indonesia, sama saja dengan di sini. Antara Rp40 ribu-Rp45 ribu dan AUD 4 (di luar surcharge atau biaya admin mesin kartu).

Dengan prinsip #antibocuan, mending pesan menu-menu orang putih (yang kalau di Indonesia, Singapura, atau Malaysia jadinya agak mahal), yang rasanya sudah ketaker, daripada impulsif membeli menu-menu Indonesia atau Asia yang lebih mahal dengan rasa belum jelas jatuhnya seperti apa … and I’m feeling so lucky my wife cooks scrumptious steaks, Chinese broccoli with crispy pork belly, and many more!

Tentang Dunia Kerja di Melbourne

Terkait yang satu ini, disclaimer dulu. Saya tidak, atau belum pernah bekerja di Australia. Sehingga pada bagian ini, saya hanya mencoba menceritakan beberapa aspek yang terpapar, ditambah penjelasan dari kenalan dan teman-teman yang bekerja di sini. Hanya ada dua hal yang ingin saya bagi.

  1. Batasan usia. Berbeda dengan model lowongan pekerjaan yang lazim beredar di Indonesia, sejauh ini saya tidak pernah menemukan iklan lowongan pekerjaan di Australia yang mensyaratkan batas usia pelamar. Siapa pun, barangkali selama belum menginjak usia pensiun bisa mengajukan lamaran dan menjalani prosesnya.
  2. Pengembalian pajak. Sama seperti di Indonesia, setiap orang (baik warga negara maupun imigran) yang berpenghasilan berkewajiban melakukan pelaporan pajak setiap tahun. Khusus bagi karyawan atau pekerja pribadi, semua pembelian barang-barang tertentu yang penggunaannya untuk aktivitas produktif (misalnya dari paket berlangganan modem, laptop, meja dan kursi kerja, bahkan sampai kendaraan pribadi) dapat diklaim untuk pengembalian pajak sejumlah tertentu. Langsung ditransfer ke rekening pribadi terdaftar. Di satu sisi, melihat standar penghasilan setempat yang dihitung AUD 20-an per jam, gaji yang dibayarkan per dua minggu, skema seperti ini bisa banget mendorong belanja rumah tangga. Sebab barang-barang produktif yang dibeli juga tetap bisa digunakan untuk kebutuhan harian lainnya, kan?

Tentang Layanan Dasar Umum di Melbourne

Lagi-lagi, karena saya belum lama-lama banget tinggal di Melbourne, setidaknya ada dua hal terkait layanan dasar umum di Melbourne yang pengin saya ceritakan.

  1. Air bersih, atau air minum. Warga, atau setidaknya yang tinggal di kawasan perkotaan, lingkar penyangga, dan sekitarnya, mendapatkan akses air bersih siap minum langsung dari keran. Makanya tidak aneh bila keran-keran air minum bertebaran di banyak lokasi umum, baik untuk diminum langsung, mengisi botol air, ataupun mengisi mangkuk minum anjing.
  2. Medicare, atau asuransi layanan kesehatan dasar dari pemerintah. Sifatnya universal, wajib dimiliki oleh warga berpenghasilan dari Australia (premi dipotong dari penghasilan), bisa juga dimiliki oleh imigran yang tinggal di Australia dan memenuhi kriteria tertentu (tidak membayar premi untuk sementara waktu). Di luar layanan ambulans, Medicare bisa digunakan untuk (hampir) semua penanganan medis bahkan yang sifatnya preventif sekalipun secara gratis.

    Di akhir tahun kemarin, saya menjalani pemeriksaan darah total tanpa biaya sedikit pun. Dengan kepemilikan Medicare tersebut, yang perlu saya lakukan adalah mendaftarkan diri sebagai pasien di klinik mana saja, membuat janji konsultasi dengan dokter, lalu mengatur jadwal untuk pengambilan sampel darah, berlanjut ke sesi pembahasan hasil tes.

    Terlepas dari kepemilikan Medicare pun, di Melbourne (atau Australia secara umum), juga terdapat banyak poliklinik spesifik yang bisa memberikan pelayanan secara gratis. Salah satu yang pernah saya alami di 2019 lalu adalah klinik kesehatan seksual.

State Library of Victoria, Australia
Saat menulis ini.

Hingga saat ini pun, kami tidak 100 persen bisa yakin akan rencana-rencana yang sudah disusun. Perkembangan demi perkembangan keadaan bisa menjadi afirmasi, atau justru kontradiksi yang membuat kami perlu melakukan perubahan sekali lagi.

Iya, jalur penerbangan internasional dari dan ke kedua negara sudah dibuka kembali dengan harga tiket yang relatif normal. Iya, angka vaksinasi sudah makin tinggi, dan menyebabkan pemerintah kedua negara sampai pada titik meniadakan kewajiban karantina yang berhari-hari, atau setidaknya dimulai dari kedatangan ke Denpasar, Bali. Namun, itu yang berlangsung beberapa hari lalu (8/3/2022). Entah nanti di pekan depan, atau bulan depan. Mana tahu kami sudah kian leluasa bepergian ke Indonesia tidak lama lagi. Untuk kemudian, tentu harus menyusun rencana lagi, termasuk untuk tinggal di Australia lebih lama.

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

fifteen − 3 =