Tes HIV: Lagi-lagi Indeterminate

136
views
HASIL akhir tes HIV pada dasarnya terbagi menjadi tiga jenis: Positif, Negatif, dan Indeterminate. Untuk dua yang pertama, sudah jelas artinya apa. Beda ceritanya jika mendapat hasil ketiga. Lebih merisaukan, bikin berpikir macam-macam, dan harus menunggu sekian pekan sebelum tes ulang demi mendapatkan kepastian. Karena hasil Indeterminate adalah sama dengan belum jelas/belum bisa ditentukan. Ketidakjelasan yang menyiksa.

Ini sebenarnya bukan kali pertama saya “berurusan” dengan status Indeterminate. Dalam tulisan sebelumnya, saya dinyatakan masuk daftar hitam PMI Kota Samarinda dan tidak bisa donor darah lagi gara-gara kondisi itu–padahal saya tidak terpapar gaya hidup berisiko. Hingga kemudian darah saya dites ulang, dan hasil akhirnya Negatif.

Sampai akhir Oktober kemarin…

Beruntung bisa dapat visa online Australia, dan tiket murah penerbangan langsung Jakarta-Melbourne, jadilah mencoba-coba berbagai pengalaman urban lokal bersama pacar. Termasuk datang ke klinik kesehatan seksual setempat–Melbourne Sexual Health Clinic (MSHC)–yang dikelola sepenuhnya oleh sukarelawan dokter, perawat, dan tenaga medis lain secara bergantian. Gratis, tetapi tetap komprehensif. Sekeranjang besar penuh kondom gratis juga tersedia di tengah ruangan, macam permen 😅. Tax money well spent, banget.

An interior of clinic, before got indeterminate result.
Ruang tunggu depan MSHC.
An individual booth with tablet for medical registration, before got indeterminate result.
Booth registrasi.
A health clinic registration card.
Kartu MSHC.

Alur pelayanannya secara singkat:

  1. Mendaftar mandiri di bilik-bilik dengan tablet.
  2. Dipanggil resepsionis untuk verifikasi status pasien (lama/baru).
  3. Dipanggil perawat (atau dokter?) untuk screening atau wawancara awal; ingin melakukan pemeriksaan-pemeriksaan standar (HIV, Hepatitis A dan B, serta PMS) saja, atau ada keluhan kesehatan seksual dan organ reproduksi lainnya. Waktu tunggunya tak seberapa lama, dan pertanyaan yang disampaikan pun relatif lazim.
  4. Dipanggil perawat (atau dokter?) untuk konsultasi pra tes, dan sesi pengambilan sampel darah. Di sini, terasa banget setiap pasien diusahakan bisa sesantai mungkin. Entah dengan pemilihan tenaga medis tertentu (gender atau pembawaan) berdasarkan hasil wawancara awal, barangkali dengan harapan agar pasien bisa lebih terbuka. Sejumlah poin edukasi tentang kesehatan seksual juga disampaikan. Saya #barutahu agak rinci tentang PrEP, bahwa klinik itu menyediakan pil PrEP gratis, rentang waktu maksimal untuk mengkonsumsi pil PrEP dari fornikasi impulsif (baca: hookups) tanpa pengaman, dan U=U (undetectable = untransmittable). Menarik!
A censored blood sample retrieval on right inner arm.
Cukup minta izin, diperbolehkan ambil foto waktu di Melbourne. Sedangkan di Indonesia, diingatkan untuk tidak mengambil foto.

Semua sesi konsultasi dan pemeriksaan berlangsung secara privat. Hanya pasien yang masuk, tanpa didampingi pasangan sekalipun. Kami diperiksa secara terpisah, petugas pun bahkan memastikan semua data identitas adalah milik pasien sendiri, terutama alamat surel dan nomor ponsel. Sebab semua informasi dan hasil yang dianggap penting hanya disampaikan melalui jalur komunikasi pribadi. Prinsipnya, no news is a good news.

Text messages, not mentioning indeterminate result.
SMS hasil tes pacar. Sampai dikirim berulang-ulang.

Berselang tiga hari, pacar dapat SMS hasil tes HIV-nya: Negatif. Ya, sudah. Liburan terus berjalan tanpa ada yang mempermasalahkan mana hasil tes saya?

Pagi di kantor, sehari setelah pulang ke Indonesia, ada surel ini dari MSHC tanpa informasi lebih lanjut yang meminta untuk menghubungi klinik. Long story short setelah berhasil menelepon ke sana dan dialihkan ke dokter, barulah diberi tahu bahwa hasil tes HIV saya ialah Inconclusive atau Indeterminate. Saya diminta melakukan tes ulang beberapa pekan kemudian, dan absen dari segala aktivitas seksual yang melibatkan orang lain. Sayangnya tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang kenapa bisa Inconclusive atau Indetermine lagi.

A screen shot of email, not mentioning indeterminate result.
Pemberitahuan via surel, karena mereka tidak bisa menelepon nomor luar negeri.

Kaget, tentu saja, dan terasa sangat tidak nyaman lantaran harus menunggu waktunya. Tak bisa ditawar. Kecuali mau tes dengan metode lebih advanced, sebut saja ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay), atau Viral Load yang justru biasanya dijalankan pada pemilik HIV+.

Tes ulang saya lakukan di Puskesmas Kecamatan Senen, biar dekat kantor. Proses pendaftaran sama seperti pasien umum lainnya: Ambil nomor antrean; menuju petugas daftar saat dipanggil; diarahkan ke bilik poli untuk konseling awal (diterima oleh relawan, tampaknya); didaftarkan untuk tes darah; dan diantarkan ke ruang laboratorium di lantai 2.

A receipt for health test result.
Bukti pengambilan hasil tes.

Untungnya hasil tes keluar kurang dari sejam, dan seperti biasa berupa kertas terlipat yang hanya dibuka oleh dokter konselor di ruang poli terpisah, serta tak boleh dibawa pulang. Begitu hasilnya ketahuan negatif, sang ibu dokter langsung rada berisik 😅.

HIV test result.
Lega!

Hasilnya negatif begini, kok. Makanya jangan nakal-nakal!” sambil bercanda.

Saya tidak melakukan yang berisiko, kok, Dok…

Kalau enggak, ngapain juga kamu tes HIV di sana? Pasti ada faktor risikonya… Tapi ya itu hak asasi kamu juga.

Saya pun menceritakan ulang soal donor darah di Samarinda, dan kembali mengutarakan pertanyaan utama: “Kenapa bisa Indeterminate terus?” Bukan perkara tak bisa menjadi donor darah lagi, apalagi setelah bertato. Khawatirnya itu mengindikasikan hal lain. Dari situ, ada informasi baru lagi. Yaitu PMI Pusat di Jalan Kramat menggunakan metode NAT (Nucleid Acid Test) dalam blood screening, yang kabarnya bisa menunjukkan kondisi dalam darah secara spesifik. Siapa tahu status sebagai pendonor darah bisa dipulihkan. 🤷🏾

Sementara itu, sembari menunggu tes ulang, saya sempat berupaya mencari tahu mengenai indikator-indikator penentu hasil tes HIV. Dalam buku panduan elektronik “Program Pengendalian HIV/AIDS & PIMS Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama” di situs Sistem Informasi HIV/AIDS & IMS Kementerian Kesehatan RI (siha.depkes.go.id), ada tabel ini.

Indeterminate treatment procedure.
Apakah Indeterminate faktor pertama atau kedua?

Nah, kan, jadi bertanya-tanya lagi. Apa kriteria yang bikin darahku Indeterminate?

Apa pun itu, dari saya pastinya, semoga kita semua dalam keadaan sehat dan dapat terus menjalani hidup dengan baik, serta gembira. Bila terpapar dengan gaya hidup berisiko, cobalah untuk memeriksakan diri. Tertutup, tanpa penghakiman, aman, bebas biaya. Daripada terus-menerus dihantui ketidaktahuan, dan ketidakjelasan.

Selebihnya, play safe. Be responsible to your body, yourself. Dan terkhusus teman-teman dengan HIV+, hang in there. 😊

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

eighteen − fourteen =