Sekilas tentang Tahun Baru Imlek

15
views

SETELAH sekian lama enggak menulis di sini, posting-an kali ini sebenarnya bukan semata-mata karena pengin cerita tentang tahun baru Imlek. Ada sedikit nuansa nostalgianya. 😊

Di tahun-tahun terakhir sebagai mahasiswa, saya memulai karier sebagai wartawan magang untuk Samarinda Pos, sebuah surat kabar yang berpusat di … tentu saja, kota Samarinda. Saya kebetulan adalah satu-satunya yang bersuku Tionghoa saat itu, dan tidak ada yang spesial dari fakta tersebut sampai pada suatu hari ketika salah satu redaktur halaman menyunting artikel untuk rubrik utama mengenai nuansa perayaan tahun baru Imlek. Lupa tahun berapa.

Karena akan dipasang di halaman-halaman depan, artikel itu tentu ditulis oleh wartawan yang lebih senior dengan proses penyuntingan cukup ketat untuk dua aspek: Konten dan penyampaian secara bahasa.

Konten disunting untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan benar, faktual dan sesuai kaidah jurnalisme yang dijadikan standar. Sementara penyampaian disunting agar nyaman dibaca, mudah dipahami dan dicerna pembaca.

Di tengah-tengah proses penyuntingan, saya dipanggil bergabung di antara mereka berdua (wartawan dan redaktur) untuk menjadi verifikator. Pertanyaan yang paling sering muncul adalah:

Kenapa orang Cina … (melakukan aktivitas X), ya? Apa maknanya?

Saya menjawab sebisanya, memberikan penjelasan tambahan yang relevan, dan mungkin sebagian di antaranya ditambahkan ke dalam artikel tersebut untuk memperkaya konteks informasinya. Dari situlah ketionghoaan saya ternyata bisa diberdayakan lebih lanjut.

Sejak saat itu saya selalu dilibatkan dalam proses penyusunan artikel berita yang berkaitan dengan budaya Tionghoa secara umum di Indonesia maupun secara spesifik di Samarinda. Dari yang awalnya hanya mendampingi wartawan senior, sampai perlahan-lahan mulai mendapatkan penugasan harian atau mingguan. Long story short, saya diangkat menjadi wartawan tetap yang memiliki inisialnya sendiri, dan ngide untuk menghadirkan rubrik mingguan yang khusus membahas budaya Tionghoa.

Ide ini memfasilitasi berbagai tujuan sekaligus. Dari sisi konten, ada segudang pembahasan yang barangkali menarik untuk dibaca masyarakat. Di sisi lain, ini bisa menjadi konten eksklusif yang hanya ada di surat kabar tempat saya bekerja. Dan melalui rubrik ini, untuk pertama kalinya saya bisa memasang tulisan Tionghoa di koran yang beredar se-Kalimantan Timur, Jakarta dan Surabaya; berasa paling canggih karena berhasil mengutak-atik pengaturan Keyboard Input di PC ber-OS Windows XP dan Windows Vista. 😎🤪

Rubrik yang bertajuk Budaya Tionghoa itu bergulir selama hampir tiga tahun, dan terpaksa harus dihentikan setelah saya dipromosikan menjadi Manajer Pemasaran dan Sirkulasi, masuk ke korporasi dan bukan lagi sebagai jurnalis.

Saya meninggalkan dunia kewartawanan karena pindah dari Samarinda, merantau ke Jakarta. Sebelum pergi, malah baru terpikir untuk menyalin dan mengarsipkan sejumlah tulisan dari rubrik Tionghoa yang ada di jaringan peladen.

Dimulai dari posting-an kali ini, saya pengin merilis ulang tulisan-tulisan tersebut. Siapa tahu menarik untuk dibaca, syukur-syukur kalau bisa menambah informasi, mengundang diskusi atau mengurangi asumsi.

Tulisan dari artikel akan dipasang sebagaimana adanya sebelum disunting, karena itu yang berhasil disimpan. 😅 Paling-paling akan ditambahkan catatan bila diperlukan.


Sekilas tentang Tahun Baru Imlek

KATA Imlek adalah bunyi dialek Hokkian yang berasal dari kata Yin Li (陰曆) yang berarti penanggalan bulan. Namun tidak hanya itu, penanggalan Imlek juga kerap disebut Nong Li (農曆) atau penanggalan agraris atau petani yang lebih bertumpu pada pergerakan siklus musim dan gejala alam.

Ini disebabkan karena sejak zaman dulu, para petani mengandalkan kemampuan mereka dalam membaca alam, pergerakan bintang, bulan dan benda angkasa yang lain untuk bercocok tanam. Apalagi di Tiongkok terdapat empat musim, sehingga perhitungan tepat dan presisi diperlukan secara mutlak untuk mendapatkan hasil pangan yang cukup.

Perayaan Tahun Baru Imlek sebenarnya adalah merupakan perayaan untuk menyambut datangnya musim semi dengan sukacita karena musim dingin akan segera berlalu dan tibalah saat para petani untuk menanam lagi.

Perayaan ini mulai dikenal pada zaman Dinasti Xia (2205 – 1766 SM). Setelah Dinasti Xia runtuh, penanggalan Imlek selalu berubah sesuai dengan kemauan dinasti yang berkuasa.

Pada umumnya, permulaan tahun Imlek diambil sesuai waktu berdirinya suatu dinasti tersebut, hingga pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M) penanggalan Imlek disusun ulang dan distandarisasi. Penanggalan Imlek tersebut diberlakukan sampai sekarang dengan menggunakan tahun kelahiran Khonghucu sebagai tahun pertama.

Rangkaian perayaan Imlek dimulai dari seminggu sebelum Imlek, diakhiri dengan Capgomeh merupakan rangkaian seremoni turun temurun yang sudah tidak banyak yang mengenal urutan dan artinya.

Seminggu sebelum Tahun Baru Imlek, pada tengah malam menjelang tanggal 24 bulan 12 Imlek (Cap Ji Gwee Ji Si) yang tahun ini jatuh pada Minggu (7/2/2010) lalu, dimulailah rangkaian pertama sembahyang Tahun Baru Imlek dengan Persembahyangan Naiknya Dewa atau lazim disebut sebagai Sembahyang Couw Kun Kong (Dewa Dapur). Sembahyangan ini adalah prosesi mengantar Dewa Dapur (dan dewa lainnya) untuk kembali ke Istana Giok dari Kekaisaran Langit guna melaporkan segala tingkah laku manusia penghuni rumah itu kepada Kaisar Langit.

Dalam masyarakat pada umumnya, inti dari sebuah rumah atau sebuah keluarga adalah dapur, tempat kegiatan makan, minum, memasak, berinteraksi antara anggota keluarga, bahkan bersantai berlangsung di sana. Dengan ini, Dewa Dapur merupakan penjaga rumah yang paling penting dan dipercaya semua hal baik maupun buruk akan didengar oleh Dewa Dapur dan menjelang akhir tahun akan dibawa dalam sidang tahunan menjelang akhir tahun.

Rangkaian kedua adalah sehari sebelum Tahun Baru Imlek atau Sabtu (13/2/2010) malam kemarin, saat diadakannya Sembahyang Tutup Tahun yang khusus diadakan untuk menghormati dan memuliakan leluhur, sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam sebuah keluarga sebagai ungkapan rasa bakti.

Pada malam ini kebanyakan keluarga begadang semalam suntuk sampai pagi untuk menyambut tahun baru, kemudian menyalakan petasan dan kembang api untuk mengusir bala dan roh jahat.

Sebelum begadang dilakukan, pastinya diawali dengan makan bersama keluarga besar. Di saat-saat seperti ini, makanan biasa tidak berhenti mengalir, tentu saja dengan tambahan bir, anggur atau minuman beralkohol lain guna melawan dingin di tengah musim dingin yang menggigit. Karena malam Tahun Baru Imlek, udara musim dingin masih terasa.

Rangkaian ketiga adalah tepat pada hari Tahun Baru Imlek, yang biasa disebut Cia Gwee Che It dalam dialek Hokkian atau Zheng Yue Chu Yi (正月初一) yang berarti tanggal 1 bulan 1. Dengan mengenakan semua yang serba baru, mulai pakaian dalam hingga handuk, hari itu diawali dengan sembahyang kepada leluhur kemudian dilanjutkan dengan Bai Nian (拜年) atau sungkem untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek kepada orangtua atau kakek nenek maupun buyut jika masih ada.

Selamat Tahun Baru Imlek.

Bai atau sungkem ala Tionghoa memiliki gerakan tangan yang unik. Kedua telapak tangan saling terkepal (dengan filosofi menangkup tangan kiri untuk menutup keangkuhan tangan kanan) diayunkan secara vertikal dalam posisi bungkuk dan kepala menunduk. Baru kemudian mereka yang diberi sungkem ini akan memberikan angpau atau hongbao (紅包) yang berarti amplop merah. Pemberian angpau dilakukan oleh yang lebih tua ke yang lebih muda, atau yang belum menikah. menangkup tangan kiri untuk “menutup keangkuhan” tangan kanan. Secara singkat, sikap pai-pai tsb adalah sikap sederhana, menundukkan dan introspeksi sesaat serta menghormat.

Mengenai ucapan yang menyertainya, bisa berbagai macam, misalnya Gong Xi Fa Cai (dibaca: kung si fa chai), Xin Nian Kuai Le (sin nien khuai le), atau Wan Shi Ru Yi (wan she ru yi) yang masing-masing berarti doa untuk mendapatkan kemakmuran, kesuksesan dan rezeki.

Ada beberapa pantangan selama Tahun Baru Imlek, yakni tidak boleh menyapu, dan memotong bagian tubuh apapun seperti kumis, janggut, kuku maupun rambut. Sehingga kegiatan pangkas memangkas ini dilakukan minimal sehari sebelum tahun baru. Kegiatan ini baru boleh dilakukan pada hari ketiga Imlek. Ketika pantang menerima tamu, khusus pada hari itu saja.

Hari ke-5 bulan pertama atau yang disebut Cia Gwee Cee Go (Zheng Yue Chu Wu), merupakan sembahyangan Toapekong (大伯公) dan para dewa turun kembali ke bumi. Setelah naik ke langit untuk melaporkan segala sesuatu tentang kehidupan di bumi, Dewa Dapur kembali bertugas di bumi.

Dipercaya saat inilah rezeki dan berkah yang dibawa serta dari Kaisar Langit akan tercurah ke umat manusia. Ditambah pula turunnya Cai Shen (財神) atau dewa kekayaan yang sudah mendapat tugas untuk memberikan ganjaran dan kekayaan kepada umat manusia. Sembahyangan ini sudah jarang dilakukan oleh generasi masa kini.

Puncak dari perayaan Tahun Baru Imlek jatuh pada tanggal 9 bulan 1 Imlek (Cia Gwee Ce Kao atau Zheng Yue Chu Jiu) atau 22 Februari mendatang. Pada hari ini diselenggarakan satu upacara besar yang disebut Persembahyangan King Ti Kong (Persembahyangan Kepada Tuhan Yang Maha Besar). Berbeda dengan para dewa, King Ti Kong diturunkan dari ajaran Khonghucu mengenai satu Tuhan yang utama dan tidak digambarkan dengan patung maupun gambar. Itu sebabnya sembahyang kepada King Ti Kong diarahkan langsung ke langit.

Penutup dari rangkaian Tahun Baru Imlek adalah Capgomeh (十五暝) yang berarti Malam ke-15 atau biasa disebut dengan Yuan Xiaojie (元宵節). Perayaan ini diperingati sebagai bulan purnama di tahun baru. Dengan berlangsungnya Yuan Xiaojie, maka berakhirlah seluruh rangkaian perayaan tahun baru Imlek.

Ada banyak kisah yang menjadi latar belakang perayaan ini, namun dengan mengesampingkan mitos mengenai perayaan Capgomeh kita bisa mendapatkan beberapa versi. Yuan Xiaojie sudah dilaksanakan di Tiongkok sejak 2.000 tahun yang lalu, versi pertama yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Mingdi yang saat itu mulai tertarik dengan ajaran Buddha. Kaisar mendengar bahwa dalam agama Buddha mazhab Mahayana yang berkembang di Tiongkok, setiap malam bulan purnama adalah malam penghormatan terhadap Sang Buddha. Salah satu cara untuk menghormati Sang Buddha adalah dengan memasang lampion. Maka dia pun memerintahkan setiap keluarga untuk memasang lampion di rumah masing-masing setiap malam bulan purnama.

Pada masa pemerintahan Kaisar Hanwen, ditetapkan bahwa pemasangan lampion cukup dilakukan di malam purnama di bulan pertama saja. Karena malam purnama pertama di tahun baru ini sebagai suatu lambang optimisme menyongsong hari depan yang lebih baik.

Versi berikutnya bahwa tradisi pemasangan lampion ini berasal dari ajaran Dao, tentang kepercayaan malam purnama di bulan pertama merupakan bulan naik yang melambangkan unsur langit, purnama di bulan ke-7 adalah bulan pertengahan yang melambangkan unsur bumi, dan purnama di bulan ke-10 merupakan bulan turun yang mewakili unsur kemanusiaan. Oleh sebab itu di setiap purnama di tiga waktu itu harus memasang lampion. Maksudnya untuk menghormati ketiga unsur terpenting itu.

Seiring perkembangan zaman, Yuan Xiaojie mengalami perubahan. Pada dinasti Han cukup menggantung lampion selama sehari, masuk dinasti Tang diperpanjang menjadi tiga hari, kemudian pada dinasti Song menjadi lima hari, sampai masuk Dinasti Ming pemasangan lampion dimulai sejak hari ke-8 sampai hari ke-17. Beragam bentuk lampion digantung di setiap sudut kota maupun rumah-rumah penduduk. Tidak hanya lampion, berbagai kegiatan lain pun diselenggarakan. Bahkan pada Dinasti Qing ditambah dengan Tarian Naga, Barongsai, dan kegiatan lainnya. Jadilah hari raya ini semakin meriah.

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − five =