Koran Kompas Akhirnya Bisa Diotak-atik Juga

709
views

SUDAH lihat Kompas edisi Sabtu kemarin, 28 Oktober 2017?

Untuk pertama kalinya, tampilan koran yang terbit sejak tahun 1965 itu diotak-atik (sebagian pembaca barangkali lebih suka menyebutnya diacak-acak) sedemikian rupa.

Sentuhan-sentuhan visual untuk edisi peringatan ke-89 tahun Hari Sumpah Pemuda itu menjadi sangat tidak biasa, lantaran merupakan sumbangsih puluhan perancang grafis maupun ilustrator ternama dari luar lingkup Kompas. Hasilnya, silakan baca komentar dan balasan untuk twit @hariankompas ini.

Apresiasi dan pujian berdatangan dari banyak orang, akan tetapi tak sedikit pula pembaca Kompas yang menyayangkannya. Mereka yang memuji, menyebut Kompas edisi 28 Oktober 2017 sebagai bentuk terobosan kaum muda sekaligus wujud kolaborasi lintas media dan generasi. Sementara kelompok di seberangnya, merasa sangat terganggu dengan aksen tampilan yang ingar bingar hampir di semua halaman.

Ada kesenjangan di sini.

Tentu saja.

Otak-atik yang dilakukan pada Kompas edisi 28 Oktober 2017 memang terasa sangat eksperimental. Maklum saja, ada puluhan kepala dengan latar belakang dan preferensi gaya visual yang berbeda-beda. Semuanya dikerahkan untuk menerjemahkan sejumlah arahan, hingga menghasilkan komposisi bentuk dan warna tanpa sedikit pun menyentuh isi berita.

Sebagai hiasan, sangat wajar bila ornamen-ornamen tersebut dibubuhkan begitu saja tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut. Sekilas, bahkan mengingatkan kita pada tampilan mading SMP/SMA yang penuh warna. Namanya juga ekspresi seni; yang penting terlihat nyeni. Pertanyaan “apa maknanya?” pun menjadi tidak relevan untuk dijawab. Apalagi jika pengerjaannya sambil mengejar tenggat cetak yang super mepet. Namun tidak demikian untuk yang terjadi di halaman 2, 27, dan 29, ketika batasan antara jurnalistik dan kreasi visual dibenturkan mentah-mentah.

Di ketiga halaman tersebut, foto-foto yang semestinya menjadi objek pendukung konteks berita turut diperlakukan layaknya objek kreasi desain grafis. Warna foto ditimpa filter khusus, membuatnya lebih mirip eksemplar koran anfal (koran di awal durasi cetakan yang sapuan tintanya belum rata). Umumnya, redaksi akan memprotes hal ini. Alhasil, berita tentang kecelakaan kerja, kebakaran, dan persiapan sarana olahraga terkesan tidak seserius biasanya. Lumayan bertolak belakang dengan ketatnya mekanisme seleksi artikel laik terbit di harian Kompas.

Selain foto, coba perhatikan tulisan di dekat angka halaman (pojok kanan atas). Susunan huruf secara acakkah, atau sebuah singkatan karena terdiri dari huruf kapital? Apa artinya?
Selain foto, coba perhatikan tulisan di dekat angka halaman (pojok kanan atas). Susunan huruf secara acakkah, atau sebuah singkatan karena terdiri dari huruf kapital? Apa artinya?

Dengan demikian, secara garis besar hasil otak-atik Kompas edisi 28 Oktober 2017 dapat saya ringkas menjadi poin-poin berikut.

  • Keren dan ekstrem
    Keren karena perubahan ekstrem ini merupakan yang pertama kalinya untuk koran sekonservatif Kompas; keren karena Kompas menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang segar sesuai nuansa pada berita-berita tertentu; dan tambah keren karena perubahan justru dilakukan oleh pihak eksternal.

    Suasana kerja ketika para tamu mempersiapkan halaman Kompas.
    Suasana kerja ketika para tamu mempersiapkan halaman Kompas.
  • Ada yang berlebihan, dan yang nanggung
    Setiap koran idealnya selalu memiliki judul dan foto utama di halaman depan sesuai prioritas pemberitaan, disusul dengan judul dan foto utama di setiap halaman. Akan lumayan membingungkan apabila judul dan foto utama tidak terlihat seperti foto dan judul utama.
    Di halaman depan Kompas edisi 28 Oktober 2017, tidak ada foto utama maupun grafis utama pengganti (misal: ilustrasi, grafis info, atau yang sejenisnya). Dalam hal ini, headline: “Anak Muda Jaga Indonesia” berupa tulisan berwarna hitam dengan latar merah yang disusun vertikal per kata mungkin dimaksudkan sebagai pengganti. Sayangnya, pembaca harus menerka maksud dari komposisi seperti itu. Ditambah lagi lipatan koran tepat membelah judul utama pada kata “Jaga”, sehingga calon pembeli hanya bisa membaca tulisan “Anak Muda” dari kejauhan saat koran dijajakan para loper. Memunculkan pertanyaan berikutnya, apa yang membuat komposisi merah dan hitam seperti itu bisa diidentikkan dengan anak muda? Belum lagi soal perbedaan antara warna di layar laptop dan setelah tercetak di kertas tipis.

    Halaman depan Kompas edisi Hari Sumpah Pemuda 2017.
    Halaman depan Kompas edisi Hari Sumpah Pemuda 2017.
  • Media berita dan memorabilia
    Dengan dua poin sebelumnya, tidak berlebihan bila Kompas edisi 28 Oktober 2017 layak disimpan sebagai memorabilia. Selain karena edisi ini merupakan yang pertama, entah apakah bakal ada edisi selanjutnya atau tidak.

    Modifikasi grafis pada foto artikel profil ini terasa pas. Ekspresi wajah yang tersenyum, cocok dengan tone yang positif dan gembira, serta pembahasan yang penuh optimisme.
    Modifikasi grafis pada foto artikel profil ini terasa pas. Ekspresi wajah yang tersenyum, cocok dengan tone yang positif dan gembira, serta pembahasan yang penuh optimisme.
    Berbeda dengan kop dua sesi halaman lain (halaman depan, dan halaman Ekonomi), kop "Klasika" mungkin dianggap lebih santai sehingga bentuk tulisannya boleh diganti... dan ditambah objek-objek imut termasuk potongan ranting/terumbu karang/orang yang mengangkat salah satu kaki dan kedua tangannya dengan kepala menunduk/apa pun bentuknya seperti ini.
    Berbeda dengan kop dua sesi halaman lain (halaman depan, dan halaman Ekonomi), kop “Klasika” mungkin dianggap lebih santai sehingga bentuk tulisannya boleh diganti… dan ditambah objek-objek imut termasuk potongan ranting/terumbu karang/orang yang mengangkat salah satu kaki dan kedua tangannya dengan kepala menunduk/apa pun bentuknya seperti ini.

    Meriah ya, penuh warna.
    Meriah ya, penuh warna.

Dari sini, baik tuan rumah maupun tamu pasti sama-sama melakukan evaluasi. Apa pun hasil akhirnya, yang jelas Kompas edisi 28 Oktober 2017 telah tampil berbeda… nah, sembari menunggu, ada beberapa sumbang saran.

  • Semonumental apa pun perubahan-perubahan yang terjadi pada Kompas edisi 28 Oktober 2017, kreasi grafis untuk koran bukan perkara baru. Kompetisinya pun difasilitasi oleh lembaga resmi semacam Serikat Perusahaan Pers (SPS) dengan gelaran Indonesia Printed Media Awards (IPMA). Bahkan sudah banyak koran daerah yang meraih juara untuk kategori desain halaman depan terbaik, dengan kreasi lebih berani dan lebih jelas maksudnya (misal: halaman depan mirip poster non iklan, halaman depan ganda, dan lain-lain). Ya, tetap saja, bukan Kompas sih. Jadi hanya heboh dan berkesan bagi para pembaca di daerah masing-masing.Terlebih…
  • Kreasi desain tetap selaras dengan prioritas jurnalistik redaksi. Sehingga pembaca tetap terpapar dengan tajuk utama dari redaksi, ditambah dengan kreasi visual sebagai elemen-elemen pelengkap. Sederhananya, desain yang fungsional. Bisa berupa…
Kaligrafi Tionghoa... ya namanya juga edisi Tahun Baru Imlek. 😅
Kaligrafi Tionghoa… ya namanya juga edisi Tahun Baru Imlek. 😅
  • Dari beberapa contoh harian daerah di atas, konsep kerjanya adalah redaksi memutuskan fokus pemberitaan lalu menentukan objek-objek pendukung. Tetap dibedakan dengan jelas antara isi berita dan desainnya. Agar berita tetap nyaman dibaca, meski desain penyajinya dibuat sedemikian rupa. Sekali lagi, desain yang fungsional.
    Untuk judul-judul utama yang bersifat peristiwa insidental, pengerjaan desainnya pun di hari yang sama. Desir adrenalin tak terhindarkan karena redaksi maupun editor tampilan beserta layouters berkejaran dengan waktu. Sedangkan pemberitaan yang bersifat investigatif dan tematik bisa dipersiapkan beberapa hari sebelumnya.
  • Salah satu potensi buruk dari kreasi halaman koran yang seperti ini adalah kesan melebih-lebihkan tajuk yang disodorkan redaksi. Idealnya, pers dan jurnalisme memang harus menjaga jarak dari dramatisasi, supaya tidak mengarahkan opini dan emosi pembacanya. Di sisi lain, cara visual seperti inilah yang dapat digunakan untuk menarik perhatian kelompok pembaca baru untuk terpapar dan mengakrabkan diri dengan koran. Hingga kemudian dipadukan dengan konvergensi media massa, apa pun format alternatifnya.

    Sama-sama edisi Hari Sumpah Pemuda, tetapi yang ini edisi tiga tahun lalu dan hanya beredar di sebagian Kalimantan... dan ada satu hal yang mengganjal: kenapa harus Ebola sih?
    Sama-sama edisi Hari Sumpah Pemuda, tetapi yang ini edisi tiga tahun lalu dan hanya beredar di sebagian Kalimantan… dan ada satu hal yang mengganjal: kenapa harus Ebola sih?

Dengan ini semua, mudah-mudahan Kompas edisi 28 Oktober 2017 punya penerusnya. Yang terpersiapkan dengan lebih matang, lebih fokus, dan lebih mengena kepada para pembacanya. Grup lain sudah memulai, mungkin ini saatnya Kompas untuk makin memeriahkannya. Mengubah paradigma kids jaman now bahwa pers surat kabar itu tidak semenjemukan sebelumnya.

[]

Bonus: Untung edisi yang ini tidak sempat naik cetak, kan bisa berbahaya.

ZAMPAH ABIS! HARAP MAKLUM!
ZAMPAH ABIS! HARAP MAKLUM!

2 COMMENTS

  1. Sebagai pembaca setia Jawa Pos belasan tahun, karena dulu langganannya di rumah koran itu, baru sadar kalo layout koran2 dari grup ini emang sering banget nabrak pakem yang ada. Dan sudah dilakukan berkali2 dari abad lalu. Nice writing, Gon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve + 20 =