Coriolanus

12 August 2012

ADA banyak film yang ceritanya diangkat dari karya sastra William Shakespeare, pujangga fenomenal dunia asal Inggris abad ke-14.

Film-film tersebut kebanyakan menjadi karya adaptasi, dimodifikasi sedemikian rupa oleh sang penulis naskah skenario, untuk kemudian tetap mempertahankan cerita aslinya, atau berubah. Ini lantaran pemilihan kata yang digunakan dalam dialog-dialog kisah karangan Shakespeare terlalu tinggi untuk jadi konsumsi masyarakat yang awam sastra. Beberapa di antaranya seperti “Romeo and Juliet” (yang menjadi inspirasi di balik “Romeo and Juliet” yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, “Romeo Must Die”, ataupun animasi “Gnome and Juliet”), dan “Macbeth” (menjadi sumber interpretasi dalam film “The Lion King”).

“A kiss! Long as my exile, sweet as my revenge.” ~ Coriolanus
source: frontroomcinema.com

Dari sekian banyak film yang berinduk pada karya Shakespeare, baru ada dua film (yang sejauh ini sudah saya tonton) dengan mempertahankan potongan-potongan dialog asli, menampilkan kalimat-kalimat bahasa Inggris njlimet dan memusingkan. Dibutuhkan lebih dari sekadar nilai TOEFL 500 untuk bisa sepenuhnya memahami (bukan menikmati) apa yang dibicarakan oleh para pemainnya.

Film pertama adalah “The Tempest”, keluaran 2010. Film ini dibintangi oleh Helen Mirren, Djimon Hounsou, Russell Brand, Alfred Molina, dan Chris Cooper, nama-nama para bintang Hollywood yang melejit dengan film-film milik mereka sendiri sebagai tokoh utamanya.

Film kedua dan terbaru adalah “Coriolanus”, keluaran 2011 yang premiere pada Januari lalu, serta mulai tayang di Samarinda sejak Rabu (8/8) kemarin. Film ini dibintangi oleh Ralph Fiennes, Gerard Butler, serta Brian Cox, juga bukan nama sembarangan dalam dunia perfilman modern.

Sebelum menonton film ini, saya penasaran dengan tinjauan dari Rotten Tomatoes yang memberikan skor 93 persen atas 123 komentar yang di-posting. 93 persen merupakan angka yang sangat tinggi, mendekati sempurna. Ini menunjukkan bahwa “Coriolanus” adalah film keren. Namun jika Anda mendefinisikan kata “keren”pada film dengan persepsi yang berbeda (seperti kerennya film “The Avengers”, misalnya), maka jangan salahkan saya apabila Anda bengong garuk-garuk kepala saat menonton “Coriolanus”; ketika berusaha mendengar serta mencermati dialog dalam film dan mencocokkannya dengan teks terjemahan, atau bahkan tertidur saat penayangan (well, I only got a couple hours of sleep back then).

“Coriolanus” menceritakan tentang peperangan antara bangsa Roma dengan Volscia, salah satu etnis kuno di Italia. Kisah ini ditulis oleh Shakespeare sekitar tahun 1506 sampai 1508. Dalam film yang disutradarai oleh Ralph Fiennes ini, hampir semua aspek dalam naskah asli “Coriolanus” dipertahankan, yang berbeda hanyalah setting dan penggambaran waktunya saja. “Corionalus” digambarkan berlangsung di dunia masa kini, dengan tentara berbaju loreng khas militer bersenjatakan senjata api otomatis.

Entah unik atau aneh, paduan antara penggambaran seperti ini dan dialog bahasa Inggris sastrawi yang terdengar sangat kuno memberikan kesan tersendiri dalam “Corionalus”. Sekadar catatan, bahasa Inggris sastrawi ini bisa Anda temukan dalam Alkitab atau Injil dalam bahasa Inggris, dengan “thou” menggantikan “you”, “thy/thee” menggantikan “your”. Sayangnya, penerjemah film ini tidak memperhatikan detail tersebut, sehingga Anda akan kerap menemukan kesalahan penulisan di teks terjemahannya.

Ralph Fiennes memerankan Caius Martius, seorang jenderal Roma bertangan dingin, berkemampuan tarung yang hebat dan dihormati oleh pasukannya. Ia dibenci oleh sebagian warga kota, lantaran mencabut kebebasan sipil dalam situasi darurat militer. Musuh bebuyutannya, adalah Tullus Aufidius, diperankan oleh Gerard Butler, pemimpin pasukan pemberontak Volsci.
Kiprah Martius sebagai pahlawan berhias puluhan luka bagi pemerintah Roma tak lepas dari Volumnia (Vanessa Redgrave), ibunya. Seorang wanita tua yang terlihat sangat patriotis dan bangga apabila anaknya pulang dari perang dengan kemenangan, atau gugur dengan kehormatan seorang pejuang.

Dalam serangan pemberontak yang berlangsung di kota Corioles, Martius dan Aufidius pun bertemu. Martius berduel dengan musuh bebuyutannya.

Atas keberhasilannya, Martius mendapatkan gelar Coriolanus dari dewan senat (khas gaya pemerintahan Roma kuno). Tidak hanya itu, ibunya dan salah satu anggota senat, Menenius Agrippa (Brian Cox), malah mendorong Martius untuk menjadi Consul, atau senat yang mewakili kota Corioles. Permintaan ini menjadi dilema, lantaran Martius sangat tidak suka dengan politik elite.

Sampai pada bagian ini, alur pikiran Shakespeare kembali mencuat kuat. Memunculkan kasak-kusuk politik, anggota senat yang munafik, rakyat yang plin-plan dan mudah berganti pendirian, serta legitimasi atas tindakan mempermalukan musuh politik.

Ada beberapa bagian yang membuat kita mengernyitkan kening, lantaran lebih cocok dimainkan di atas panggung teater ketimbang divisualisasikan dalam adegan film, namun ada juga beberapa bagian yang penggambarannya jauh lebih mantap sebagai tayangan. Film ini berlokasi syuting di Serbia (Belgrade dan Pancevo), serta Montenegro (Koytor). Sebagai negara bekas pecahan Uni Sovyet yang baru lima tahun terakhir bebas dari peperangan, jelas hanya ada kekelaman, langit kelabu, dan suasana yang terlihat dingin tak bersahabat.

Kasak-kusuk politik membuat alur cerita berubah 180 derajat, ketika Martius harus berbalik menghadapi apa yang dulu diperjuangkannya, untuk kemudian di akhir cerita mesti kembali berubah keadaannya.

Voldemort Got His Nose Back!

DEBUT pertama Ralph Fiennes sebagai pemeran utama dan sutradara dalam “Coriolanus” saya sebut gagal sekaligus sukses. Gagal, karena film ini belum bisa diterima secara umum sebagai film komersial, tergambarkan dari perolehan box office yang hanya sepersepuluh dari biaya pembuatannya. Namun sukses, karena film ini memiliki segmentasi khusus, berkualitas festival (alias bukan film pasaran), dan Ralph Fiennes sendiri mampu menampilkan sosok Caius Martius dengan luar biasa.
Dikelilingi dengan tokoh pendukung yang tampil sesuai porsinya, Martius menjadi figur sentral yang menjulang. Di panggung teater, dominasi Martius ditandai dengan kemunculan yang sering dan dialog yang mendominasi, sedangkan dalam film, bertambah dengan banyaknya adegan yang diambil secara close-up, menunjukkan semua gejolak emosional yang terlihat di wajahnya.

Salah satunya, ketika Martius menyampaikan orasi dengan gagah sambil berlumuran darah. William Shakespeare pasti akan menangis bahagia, kalau bisa melihat hasil karyanya ditampilkan dengan emosi yang sedemikian kuatnya.

Saking kuatnya, penampilan Ralph Fiennes sampai berhasil menenggelamkan kehadiran Gerard Butler di dua pertiga bagian film. Bahkan, Gerard Butler seolah tampak canggung, ketika mengucapkan dialog-dialognya yang tertulis dengan bahasa sastra. Entah, mungkin memang seperti itu yang diinginkan oleh sang pengatur casting. Karena jika merunut pada naskah asli sandiwara karya Shakespeare, Martius-lah pusat dari semesta dalam “Coriolanus”.

Hanya ada satu hal yang saya rasa menggelikan. Ralph Fiennes, dengan kepala plontos, dengan dialog berbahasa Inggris tak umum, dengan intonasi dan penekanan yang khas, dan ekspresi wajah kelam tanpa bahagia namun kaya (selalu berulang antara kecewa, marah, sedih, dan pasrah), mengingatkan dengan penampilannya sebagai … Voldemort.

Setidaknya, “Coriolanus” menunjukkan bahwa Ralph Fiennes memang bintang film dengan kualitas istimewa, dan memiliki kemampuan menjadi sutradara yang masih terus bisa dipertajam gayanya.

[]