“Puding Kebijaksanaan” & Upaya untuk Tetap Relevan?

99
views
SECUPLIK gambaran tentang Buddhis muda dan vihara di Indonesia.
A puding with Buddhist verse on its cap cover.
Puding of Wisdom?

Sekilas, ini terlihat seperti hosti berayat yang dikemas sedemikian rupa untuk perjamuan kudus. Biasanya, lengkap dengan secangkir plastik kedap dan steril berukuran kecil berisi minuman anggur, perlambang tubuh dan darah Kristus bagi orang-orang percaya.

Ringkas, rapi, dan terkesan modern, meskipun sifatnya hanya sekali pakai. Sementara beberapa belas tahun lalu, Mama saya seringkali membawa cawan kecil–mirip wadah boor water atau cairan pembilas mata–ke gereja pada pekan-pekan tertentu. Rupanya untuk tujuan serupa.

Beginilah penampakan benda aslinya.

Efisien dan cakep.
Source: Twitter @qronoz (6/12/2015)
Hosti perlambang tubuh Kristus.
Source: Twitter @JPCC (6/3/2018)

Foto seperti ini marak berseliweran di lini masa akun media sosial saya setiap hari Minggu beberapa tahun terakhir. Para pengunggahnya barangkali ingin berbagi hikmat Firman Tuhan yang mereka dapatkan, atau mungkin sekadar menunjukkan bahwa mereka hadir dan berbakti sebagai Anak Tuhan. Keterangan lokasi tentu tak lupa dicantumkan, dan Gereja Jakarta Praise Community Church (JPCC) salah satu nama tempat paling sering muncul dari lingkar pertemanan saya.

Perhatikan, foto yang pertama tadi bukan hosti, bukan roti wafer tipis tanpa rasa.

Entah apa mereka menamakannya, tetapi saya ingin menyebutnya Pudding of Wisdom. 😅 Iya, itu puding. Lihat saja sendok plastiknya. Tertera beberapa ayat Dhammapada–bagian dari Tipitaka yang berupa syair-syair bijaksana–di tutupnya.

Saya memang tidak hadir dan mengikuti kegiatan yang berlangsung di utara Jakarta itu, tetapi, tetap saja bisa dipastikan merupakan kegiatan keagamaan Buddhis. Kendati tidak terlihat adanya altar, patung Buddha, dupa dan lilin, bunga dan air, maupun Dhammaduta, Pandita, atau Bhikkhu sebagai penceramah.

Screenshot of a WA message.
Saat saya bertanya: “Ini kenapa?
Padahal, untuk segala sesuatu yang terjadi pasti ada penyebabnya.

Kekhawatiran dan kerisauan soal ini sudah bergejolak sejak lama, bahkan jauh melampaui yang bisa kita bayangkan. Sebab agama telah menjadi semacam organisasi atau paguyuban, dan para penganutnya adalah anggota komunitas. Secara logis, setiap organisasi diatur dan dikelola demi keberlangsungannya. Operasional memerlukan sumber daya; dana dan tenaga. Diperoleh dari umat sendiri, berupa sumbangan dalam bentuk apa saja.

Mari kita kesampingkan hal itu untuk sementara waktu, dan kembali ke perkara Pudding of Wisdom dan pendapat di atas.

Jika boleh berasumsi, apakah langkah meniru tersebut sudah tepat? Khususnya bagi generasi muda Buddhis yang menjalankan ajaran non-paganisme, benar-benar belajar, dan bukan datang ke vihara–atau kelenteng–semata-mata karena diajak atau disuruh orang tuanya, atau demi mendapatkan nilai mata pelajaran agama?

Barisan remaja Vihara Muladharma, Samarinda, ingin meminta tanda tangan untuk buku bukti kehadiran di tempat ibadah. Untuk nilai mata pelajaran agama. (26/1/2014)

Ditinjau dari hal yang paling mendasar saja, yaitu karakteristik inti ajaran, Kristen dan Buddhisme berpijak di dua kutub berbeda. Please do correct me if I’m wrong, hanya saja sebatas yang saya pahami (serta pernah alami), kesukacitaan dan perayaan atas penebusan, kuasa kasih, dan keberserahan merupakan elemen-elemen penting bagi kehidupan orang Kristen. Tuhan adalah yang nomor satu, manusia tetap dengan ketidakmampuan dan ketidakberdayaannya. Oleh karena itu, wajar bila semuanya diungkapkan, diekspresikan, dan ditunjukkan secara eksplisit dalam persekutuan-persekutuan jemaat tiap pekan. Dalam pujian-pujian, doa-doa yang dipimpin, serta seruan “Amin!” dan “Haleluya!” secara berkala. Begitu pun di JPCC, satu-satunya gereja yang pernah dan beberapa kali saya datangi selama tinggal di Jakarta … dan jujur saja, saya sangat menikmatinya.

Bagi saya, suasana di JPCC memang terasa menyenangkan, terbuka, dan relatif tidak kaku, terutama yang di Kota Kasablanka (Kokas). Para pengkhotbah dan khotbah-khotbahnya, para worship leaders, sampai para sukarelawan yang bertugas di tiap-tiap service atau sesi ibadah mendukung ekosistem tersebut. Alhasil, tak aneh jika jemaat–yang lama, pendatang baru, atau pun umat agama lain–selalu antre mengular di depan pintu-pintu sejak setengah jam sebelum dibuka; terus bertambah dan membeludak sampai sesi ibadah dipecah empat kali setiap Minggu, itu pun masih banyak yang tidak kebagian tempat duduk, atau akhirnya hanya bisa melihat layar proyektor di luar aula The Kasablanka. Pernah satu kali saya hadir dan dengar sendiri, Gembala Gereja JPCC, Ps Jeffrey Rachmat bahkan menyarankan jemaatnya untuk mengikuti ibadah melalui siaran langsung YouTube, atau malah sesekali bisa beribadah di gereja-gereja keluarga–tempat lain–saking kian padatnya JPCC dari waktu ke waktu. “Sebab Kerajaan Allah di mana-mana sama saja.

Waktu ikut antre menjelang service JPCC. (14/1/2018)

Bagaimana dengan Buddhisme? Mengacu pada Pudding of Wisdom tadi sebagai contoh, saya coba persempit pada Buddhisme mazhab Theravada saja, aliran yang memiliki perangkat ajaran sistematis.

Hening, sunyi, dan sunyata. Menitikberatkan pandangan ke dalam batin masing-masing, dan berjuang sendiri untuk merealisasi hakikat dari segala sesuatu: ketidaktetapan (anicca), ketidakpuasan (dukkha), dan tiadanya inti yang tetap (anatta). Tidak ada pembebasan pasif atau penyelamatan dalam Buddhisme. Tujuan akhir dari ajaran bukanlah untuk mencapai surga. Tidak ada yang perlu dirayakan, sebab luapan kegembiraan pun tetap bisa menimbulkan kemelekatan; muatan batin dengan kesan nestapa yang sangat halus.

Jadi, apakah tepat meniru kegegapgempitaan ala jemaat Kristen bagi para Buddhis muda?

Here’s my 2¢. Umat Buddha secara umum boleh disebut beruntung, lantaran tidak terikat pada doktrin tentang tata laksana ritual dan ibadah. Puja bakti atau kebaktian di vihara bukanlah kegiatan wajib yang berganjar pahala (bila dijalankan) atau dosa (bila ditinggalkan). Terlepas dari tata tertib umum, terdapat ruang berkreasi dan pengembangan yang masih sangat luas. Lagipula, tradisi dan kebiasaan puja bakti yang ada saat ini juga merupakan hasil penyusunan oleh adat dan kesepakatan. Bukan semata-mata instruksi atau perintah Buddha sendiri.

Dengan meniru kemeriahan suasana gereja, bisa saja memunculkan ketertarikan dan kesegaran baru. Sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Silakan saja. Tak ada masalah, asal tidak memaksakan diri. Akan tetapi jangan lupa bahwa daya tarik hanya berfungsi sebatas pintu masuk, tampilan permukaan yang mengundang. Sebab bagaimanapun juga, Buddhisme berorientasi pada melihat ke dalam diri, bukan meluapkan ke luar diri. Dengan metode dan cara yang sama, yang dilakukan Petapa Gotama hingga merealisasikan kebuddhaannya.

Di luar dari itu semua, setiap orang pasti memiliki alasan dan dorongan yang berbeda-beda ketika datang ke tempat ibadah. Keramaian dan membeludaknya jemaat JPCC di Kokas, misalnya, tentu tak bisa dibandingkan mentah-mentah dengan puja bakti Minggu di vihara-vihara Theravada Jakarta. Walau sama-sama datang ke tempat ibadah, mereka mencari dan mendapatkan hal yang berbeda, lewat metode dan pendekatan batin yang berbeda pula.

Di JPCC

  • Pujian disampaikan dengan nuansa konser live music, jemaat bebas melakukan gerakan fisik sebagai ekspresi. Termasuk bangkit berdiri dari kursi.
  • Bisa merasakan sensasi merinding.
  • Suasana yang dibangun adalah sukacita dan kegembiraan.
  • Menggunakan bahasa umum: bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
  • Durasi khotbah relatif singkat, kerap dibawakan dengan bersemangat, tidak memungkinkan sesi tanya jawab.
  • Jemaat duduk di kursi, dan bisa diminta berdiri dalam beberapa waktu.
  • Para sukarelawan dan petugas tersebar di beberapa titik, mulai dari penyambutan, antre masuk, hingga memandu ke tempat duduk yang disediakan.
  • Ketentuan busana cenderung kasual.
  • Satu sesi kebaktian diikuti lebih dari seribu orang.
  • Ramai.
  • Tidak ada kantung kolekte yang diedarkan. Jemaat dipersilakan memberikan persembahan dengan amplop di kotak-kotak dekat pintu keluar, transfer bank, atau menggunakan kartu debit di mesin-mesin transaksi.
  • Di akhir service 1, 2, dan 3, setiap jemaat yang keluar aula akan langsung melihat barisan antrean calon jemaat service berikutnya.

Di vihara

  • Puja bakti menghadap ke altar, tempat kedudukan patung Buddha besar dan sejumlah perlengkapan. Termasuk hio, lilin, bunga, dan sebagainya.
  • Umumnya diawali dengan pembacaan serangkaian Paritta serta Sutta dalam bahasa Pali, dilanjutkan dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pembacaan dipimpin oleh petugas, dipandu buku atau melalui proyektor. Terdapat ketentuan panjang pendeknya pelafalan vokal, intonasi dan nada, serta sebagainya.
  • Juga bisa merasakan sensasi merinding dalam sesi pembacaan bersama-sama, atau saat pembacaan khusus oleh Bhikkhu.
  • Suasana yang dibangun adalah keheningan dan perenungan.
  • Duduk bersila atau bersimpuh di lantai, menggunakan alas bantal dengan tingkat keempukkan berbeda.
  • Ada aktivitas namakara, atau bersujud. Tujuannya bukan untuk penyembahan, melainkan tradisi ekspresi penghormatan.
  • Sesi meditasi diselipkan di tengah-tengah durasi, sebelum Dhammadesana atau ceramah. Waktunya relatif singkat, rata-rata 3-10 menit tergantung kebiasaan di masing-masing vihara. Objek meditasi yang umum digunakan adalah pengamatan terhadap napas atau pikiran yang dipenuhi aspirasi cinta kasih universal.
  • Berlangsung di Dhammasala atau aula khusus puja bakti, penceramah relatif merasa tidak perlu bersuara terlampau nyaring atau keras, apalagi berteriak. Situasi ini kerap membuat ceramah di vihara terkesan tenang, datar, tidak terlalu meledak-ledak–dianggap tidak sebersemangat itu.
  • Telah menjadi kebiasaan dalam beberapa tahun terakhir, setiap ceramah ditutup dengan sesi tanya jawab untuk dua sampai tiga orang.
  • Dalam puja bakti pemuda atau remaja, ceramah juga bisa diganti dengan bentuk alternatifnya, yaitu diskusi, sesi debat (mengangkat topik-topik terpilih), atau malah ditiadakan jika waktu tidak mencukupi.
  • Puja bakti akan kembali ditutup dengan pembacaan Paritta, dan penghormatan dengan bersujud.

Dari segi ajaran, tradisi dan kebiasaan sudah berbeda, demikian pula dari sisi sensasi emosional dan psikologis. Lagi-lagi, saya menggunakan istilah ada sesuatu yang diluapkan dengan lepas, dan ada sesuatu yang dicerap ke dalam batin, disadari, dan diamati.

Selain itu, sama-sama memberikan pujian. Namun, yang satu memuji tuhan dan juru selamat, sedangkan yang satu lagi memuji guru, sang pengajar jalan untuk bisa mencapai seperti dirinya.

Pembeda lainnya ada pada sikap terhadap pertanyaan-pertanyaan spiritual. Dalam dogma, ada hal-hal yang sudah tidak perlu–atau, sebagai bentuk ketaatan dan kepercayaan penuh, bahkan tidak boleh–dipertanyakan lagi. Kalaupun ada pertanyaan-pertanyaan lain, direspons jawaban yang memberikan rasa tenteram. Guna meneguhkan rasa percaya.

Di vihara, tersedia kesempatan dan keleluasaan untuk mempertanyakan apa saja. Pertanyaan-pertanyaan tentang kepercayaan dijawab dengan keniscayaan. Bukan sesuatu yang eksklusif, melainkan sesuatu yang universal dan sebagaimana adanya. Maka, tak jarang jawaban-jawaban itu justru menyisakan perasaan terusik, yang mengganggu dan menggoda agar kian didalami.

Ketertarikan dan aspirasi spiritual antara remaja dan kaum muda pada umumnya, akan sangat jauh berbeda dengan kelompok yang lebih dewasa. Terlebih soal kedewasaan spiritual; keadaan batiniah, yang sejatinya memang ada di dalam diri. Antara mereka yang mencari sukacita, kegembiraan, dan kesenangan, serta mereka yang mencari penyadaran, ketenangan, dan pandangan terang.

Penanganannya tak bisa dipukul rata, antara umat muda dan umat dewasa/tua. Hal-hal yang dianggap menyenangkan bagi umat muda, bisa saja terasa aneh, di luar kebiasaan, dan mengganggu umat dewasa/tua.

> Manfaatkan sarana multimedia

Remaja dan anak muda senang dibuat terpukau. Sedangkal-dangkalnya pengalaman indra, tetap mampu menarik perhatian mereka. Minimal melalui desain yang ditampilkan. Memungkinkan terjadinya interaksi, atau engagement, tinggal selanjutnya bagaimana para pengurus menindaklanjuti. Bisa dengan topik/tema, bisa pula dengan aktivitas yang disodorkan.

Pemanfaatan teknologi multimedia sendiri bukanlah hal yang teramat asing dalam pengelolaan puja bakti. Pernah ada masanya ketika Microsoft PowerPoint pertama kali digunakan dalam penyampaian Dhamma. Pembabaran poin-poin ajaran pun tervisualisasikan, membantu umat memahami lebih mudah.

Kembali mengambil contoh JPCC, baik di Kokas maupun Upperroom Jakarta, panel-panel LED terpasang sebagai latar panggung. Tentu menampilkan desain-desain yang dibuat secara serius, entah sebagai karya pro bono maupun pekerjaan profesional.

Pada saat sudah makin banyak pengurus vihara yang mengundang (baca: mempekerjakan) guru musik dan paduan suara gereja untuk melatih umatnya, kenapa mesti enggan menjalankan strategi serupa buat aspek-aspek lainnya?

Ini pun bukan sekadar persoalan ada tidaknya donatur yang bersedia menyumbang sejumlah dana, guna dibelikan perangkat-perangkat keren nan mahal. Melainkan sumber daya dan tenaga kreatif yang mampu merawat, serta memaksimalkan fungsinya. Percuma memiliki barang mahal, kalau tidak bisa mempergunakan dengan baik.

A stage for church service.
Salah satu desain utama di JPCC.

Bagaimana soal tata suara dan tata cahaya? Saya akui, agak ketinggian untuk mengejar standar gereja-gereja besar. Di luar momen kebaktian mingguan, aula dan panggung gereja terkadang disewa untuk konser dan pertunjukan. Sementara di vihara, paling tidak mampu menghadirkan suara yang jernih dan jelas.

> Ganti tempat, ganti suasana

Para Buddhis Theravada beruntung tidak perlu terikat pada aturan-aturan kaku tentang tata cara, termasuk tempat puja bakti. Dhammasala atau aula utama di sebuah vihara memang telah memenuhi ketentuan-ketentuan khusus (misalnya tentang titik-titik Sima). Namun, puja bakti pada dasarnya bisa dilakukan di mana saja, asalkan bersih dan tidak membahayakan.

Di Samarinda, puja bakti kreasi pernah dilakukan di aula serbaguna, sehingga bisa ditambahi ornamen dekorasi sesuai tema. Puja bakti juga pernah dilaksanakan di luar ruangan, dengan suasana mirip tamasya. Di bawah pepohonan rindang, cukup berangin, sehingga tidak gerah.

Konsep puja bakti di luar ruangan sendiri bukanlah sesuatu yang baru. Di Vihara Bodhigiri, Blitar, misalnya, puja bakti dilakukan di area terbuka tanpa altar, hanya pohon Bodhi (Ficus religiosa) sebagai penanda bagian depan. Termasuk saat digunakan untuk pelayanan umat, semisal pemberkatan pernikahan.

“Ruang” Dhammasala Vihara Bodhigiri, Blitar.

Situasi ini cukup mungkin dilangsungkan di vihara, karena umatnya tidak sebanyak di gereja.

> Terkurasi dan terencana

Menurut saya, titik pusat sebuah puja bakti adalah sesi Dhammadesana atau pembabaran Dhamma, dan barangkali serupa dengan masalah yang dihadapi di mana saja, ada kalanya umat lebih terikat pada figur penceramah dibanding ajaran atau isi ceramahnya itu sendiri.

Di gereja, saya lihat banyak jemaat yang membuat catatan tentang isi khotbah. Dalam penerangan yang remang, catatan-catatan itu mereka buat secara digital; pakai ponsel. Mereka jadikan itu santapan rohani, yang mungkin sewaktu-waktu bisa dibaca kembali.

Di vihara, masalah yang mengemuka tentang ini ialah apa konten yang dibawakan; bagaimana konten itu dibawakan; dan siapa yang membawakannya.

Topik yang dianggap basi, disampaikan secara kaku dan tidak menarik, oleh seseorang tanpa karisma menjadi kombinasi yang cukup sering terjadi di vihara. Beda ceritanya bila ceramah dibawakan oleh seorang Bhikkhu, yang alur penyampaiannya relatif mudah dan nyaman diikuti, dilengkapi ilustrasi-ilustrasi masa kini. Topik yang paling mendasar pun akan tetap menarik, dan terasa memperkaya perspektif spiritual umat.

Dari sisi tema, ada begitu banyak sudut pandang yang bisa dieksplorasi, dan disesuaikan dengan demografi umatnya. Khusus untuk early adult, coba saja dengan beberapa sub tema dan judul berikut:

  • Bagaimana Buddhisme memandang tradisi Tionghoa? (Dewa-dewa dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, budaya spiritual Tionghoa): “Menjadi Seorang Buddhis yang Tionghoa, atau Seorang Tionghoa yang Buddhis?”
  • Feminisme: “Girl Power in Buddhism
  • Sains: “Klona: Sebuah Dhamma Keterkondisian” atau “Clone and an inevitable Dhamma
  • Eksistensi religius: “Pensiun Sebagai Buddhis?” atau “I want to quit being a Buddhist” atau “Why am I still a Buddhist?
  • Buddha is a Social Justice Warrior?
  • Romantika asmara remaja: “Pacaran Pakai Ciuman
  • LGBTIQ: “Ngondek dan ke vihara. Lah, memangnya kenapa?

Beberapa contoh sub tema dan judul di atas bisa jadi terdengar agak ekstrem. Saking ekstremnya, sampai-sampai berasa terusik dan tidak nyaman hanya dengan membacanya. Disadari atau tidak, sub tema-sub tema tersebut merupakan cukilan mikro dari tema-tema besar yang lazim diceramahkan selama ini: “Jalan Tengah Berunsur Delapan”.

Tentunya disampaikan dalam lingkungan terbatas, dan perlu proses kurasi. Beberapa di antaranya sudah pernah dibawakan, kok.


Tantangan berikutnya, apa yang akan kamu lakukan supaya tetap relevan dan tidak makin ketinggalan, tanpa harus meninggalkan?

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − thirteen =