The Cabin in the Woods

2 September 2012

KONON, kata para penggemarnya, belakangan ini jarang ada film horor yang berkualitas. Judul demi judul film horor yang ditayangkan di bioskop pun ditanggapi dengan beragam kesan.

Seingat saya (yang tidak terlalu paham seluk beluk indahnya sebuah film horor), beberapa judul terakhir yang mendapatkan apresiasi secara umum adalah “Scre4m”, “Paranormal Activity”, “Final Destination 5”, dan “Insidious”. Semuanya tampil menyeramkan dengan subgenre masing-masing. Hingga pada beberapa bulan terakhir, judul “The Cabin in the Woods” muncul dan menjadi perbincangan hangat, meskipun tak kunjung tayang di Indonesia.

Akhirnya, film yang sebenarnya sudah selesai dibuat pada 2009 lalu ini, diputar di Samarinda sejak Sabtu (25/8) dalam pertunjukan midnight. Para penggemar film horor pun bergembira, sampai mereka menontonnya sendiri dan kembali memiliki kesan beragam terhadapnya.

You think You know the story.” Kalimat ini menjadi tagline yang terpampang di poster “The Cabin in the Woods”.

Sesuai tagline-nya, ternyata film berdurasi 1,5 jam ini memang memiliki banyak kejutan, yang membuat para penontonnya kembali harus menerka dengan keras tentang apa yang bakal mereka saksikan (itupun kalau punya waktu untuk menerka). Pasalnya, bukan hanya sekadar berisi kematian yang sadis, darah di mana-mana, maupun kemunculan-kemunculan yang mengagetkan, film ini menampilkan cerita yang belum pernah ada sebelumnya. Alhasil, ada penonton yang menganggap film ini superkeren, namun ada juga yang bingung lantaran ending yang dirasa menggantung. Yang jelas, makin sedikit Anda baca atau dengar tentang film ini, (katanya) makin baik.

source: whoathisisheavy.blogspot.com

Seperti yang tergambarkan dari judul dan posternya, “The Cabin in the Woods” sudah jelas menceritakan tentang sebuah pondok di tengah hutan. Entah pondoknya siapa, dan aksesnya didapat dari mana, pondok tengah hutan ini menjadi tujuan liburan oleh sekelompok anak muda. Mereka adalah Curt (Chris Hemsworth, sebelum ia terkenal sebagai “Thor”), Dana (Kristen Connolly), Jules (Anna Hutchison), Marty (Fran Kranz), dan Holden (Jesse Williams). Curt adalah pacar Jules, Marty adalah seseorang yang sebenarnya cerdas namun suka mabuk, sedangkan Dana adalah cewek cantik alim yang merasa bahwa buku tebal berjudul “Struktur Ekonomi Soviet”, adalah bacaan yang mampu mengusir rasa bosan. Ia dicomblangkan oleh Curt dan Jules kepada Holden, anak pintar lainnya yang kebetulan juga tampan.

Awalnya, kedatangan mereka ke pondok itu hanya untuk liburan dan bersenang-senang, sampai akhirnya tujuan mereka berubah menjadi harus bisa bertahan hidup. Tidak hanya mereka berlima, “The Cabin in the Woods” juga menampilkan Richard (Richard Jenkins), dan Steve (Bradley Whitford) sebagai dua tokoh kunci.

Sampai pada bagian ini, tidak akan ada penjelasan mengenai bertahan hidup dari apa atau siapa? Dari mana ancaman maut itu muncul? Bagaimana cara mereka bertahan hidup? Begitupun juga penjelasan tentang apa hubungan antara Richard dan Steve, dengan pondok di tengah hutan tersebut.

Saya hanya bisa meraba, ada beberapa poin cerdik yang ditampilkan dalam “The Cabin in the Woods”. Mulai dari premisnya, perangkaian adegan demi adegan, aksen-aksen yang kuat di tiap adegan utamanya, tuturan dialognya, ikon-ikon penting sepanjang film, hingga bagaimana kejutan demi kejutan dimunculkan. Seperti salah satu bagian yang saya anggap paling menggelikan, ketika sekelompok zombie muncul dan bergerak sangaaat pelan, sampai-sampai membuat mereka almost missed all the fun, indeed.

Terlepas dari itu semua, film ini tetap menjadi tayangan yang pantas untuk dinikmati. Menghibur para penggemar horor. Walaupun saya bukan salah satunya.

[]

Posted from WordPress for BlackBerry.