Saya Pernah Jadi “Buddhis yang Takfiri”: Buddhis yang Mengafirkan Buddhis Lainnya

17 August 2017

WAKTU ke Asian Civilisations Museum (ACM) Singapura beberapa pekan lalu, kebetulan ada anak-anak sekolah sedang berdarmawisata, tak terpikir ini bisa memicu tentang pandangan terhadap Buddhis.

Setelah di-briefing bu gurunya tentang kegiatan observasi dan tugas, mereka pun bebas berkeliling, mengamati, dan mencatat hal-hal menarik dari koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sana. Sampai ada salah satu bocah yang lihat arca ini, lalu heboh sendiri dan menarik perhatian teman-temannya.

Look! They’re kissing! But why they are doing that?” Sambil terus memerhatikan artefak dari Tibet ini. Dia terlihat sangat excited.

Oh, I know! I know! The man is the god, and the woman is a human!” Dengan penuh semangat dia ngomong ke teman-temannya yang mulai berkerumun di situ. Entah dapat inspirasi dari mana sampai bisa menyimpulkan begitu, mungkin gara-gara pernah nonton film bertema mitologi Yunani Kuno yang dewanya dikisahkan punya anak hibrida.

Enggak lama, bu gurunya datang lalu terlihat lumayan kaget dengan objek yang sedang diributkan murid-muridnya.

Miss, this one is the god, and that is a human, right?” tanya si bocah.

Bu gurunya cuma bisa senyum-senyum ditahan, dan menjawab dengan aman “Right! Okay, kids, you can go and see other things. We’re just in the first hall.

Setelah bocah-bocah disingkirkan dari situ, eh bu gurunya kembali dan baca keterangan artefak di sampingnya. Sepertinya penasaran juga, atau persiapan buat lain kali. 😅

Iya, ini adalah patung logam dari tradisi salah satu mazhab besar Buddhis. Faktanya, sosok laki-laki patung tersebut memang menggambarkan seorang Buddha. Cuma jangan sampai keliru. Buddha di patung itu bukan tokoh sejarah yang pernah terlahir sebagai pangeran bernama Siddhattha Gotama (Sanskerta: Siddhartha Gautama) di utara India hampir 2.600 tahun lalu, yang kemudian menjadi pencetus Buddhisme.

Patung tersebut menggambarkan Buddha bernama Vajradhara (Penguasa Halilintar) dan pasangannya, Prajñaparamita (Kebijaksanaan yang Tertinggi). Penggambaran ini berasal dari tradisi mazhab Tantrayana/Vajrayana yang dominan di Tibet, Nepal, dan Bhutan. Keberadaannya pun terbatas hanya dalam lingkup mazhab Tantrayana/Vajrayana tersebut. Tidak di mazhab-mazhab lain.

Lazimnya orang kita, kemudian ada yang berceletuk: “Buddha kok begitu?” 😓


Cerita sedikit sebelum lanjut. Ajaran agama Buddha hingga saat ini terbagi dalam tiga mazhab besar:

  • Theravada
  • Mahayana
  • Tantrayana/Vajrayana
Pindapatta oleh Buddhis Samarinda
Para Bhikkhu Theravada dalam kegiatan Pindapatta di Samarinda.
Para Lama Tantrayana. Source: YouTube.

Secara kasatmata, perbedaan antara ketiganya bisa dilihat sesederhana membedakan antara praktik agama Buddha di Thailand/Burma/Kamboja/Sri Lanka; Tiongkok/Taiwan/Jepang/Korea; dan Tibet/Nepal/Bhutan. Minimal dari desain dan warna jubah para pemuka agamanya, baik yang merupakan Bhikkhu, Bhiksu, maupun Lama. Dari jubah dan penampilan mereka saja sudah terlihat jelas.

Setiap mazhab kembali terbagi dalam beberapa sub mazhab. Terutama Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang menerima modifikasi serta perubahan. Itu sebabnya kenapa ada ajaran Zen (禪); Tendai (天台宗); Shingon (真言宗); Nichiren (日蓮) di Jepang, di Tiongkok ada biara Shaolin, di Taiwan ada perkumpulan sosial Buddha Tzu Chi (財團法人中華民國佛教慈濟慈善事業基金會) yang menyebar hingga ke Indonesia dan punya kompleks gedung gede di PIK sana; maupun aliran Maitreyanisme  (彌勒大道) yang sukses membuat banyak orang mengira Buddha adalah sosok yang bertubuh gendut dan selalu terlihat tertawa gembira, di Tibet ada aliran Nyingmapa; Gelugpa dengan topi kuning; Kagyu; dan beberapa lainnya.

Jangankan orang awam, banyak Buddhis sekalipun yang kerap alpa dengan perbedaan-perbedaan ini. Tanpa analisis dan pemahaman yang mendalam, banyak yang menjadi Buddhis karena kelahiran, alias diwariskan dari orang tuanya tanpa penjelasan yang memadai. Tidak aneh jika setelah dewasa, banyak Buddhis di dunia termasuk Indonesia yang kemudian berpindah agama.

Wajar bila muncul pertanyaan: “Kenapa bisa terpecah-pecah menjadi banyak mazhab begitu?

Jawaban singkatnya adalah: “Karena ada perbedaan dalam penafsiran dan pelaksanaan ajaran.

Perpecahan mazhab dalam agama Buddha terjadi pada beberapa abad sejak Buddha wafat. Secara rutin setiap beberapa ratus tahun, para Bhikkhu yang sudah merealisasi kesucian batin maupun yang masih manusiawi berkumpul dalam sidang serupa konsili. Agenda utamanya adalah untuk menghimpun semua sabda dan peraturan yang dituturkan oleh Sang Buddha sendiri, sekaligus melakukan pembahasan terbuka yang dinilai perlu di bawah pengawasan para sesepuh.

Mulai sidang ketiga, tujuan-tujuan yang ditambahkan adalah menjaga kemurnian ajaran dengan menertibkan para “penumpang gelap”, menertibkan para Bhikkhu yang slebor dan urakan, menertibkan praktik-praktik yang bukan berasal dari Buddha sendiri, memerhatikan hasil analisis dan komentar atau tafsir terhadap sabda dan aturan dari Buddha, serta memikirkan cara untuk menyebarkan ajaran supaya tidak hilang di tanah asalnya (India) tapi bukan bertujuan Buddhaisasi.

Merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, makin lama semakin sedikit saja ulama yang berhasil merealisasi kesucian batin. Menyisakan lebih banyak Bhikkhu yang masih manusiawi dan bisa keliru berpikir.

  • Buddha wafat pada tahun 400 SM. Sidang pertama dilangsungkan tidak lama setelah itu. Agendanya adalah pengulangan kembali seluruh khotbah dan aturan kedisiplinan dari Sang Buddha.
  • Bibit-bibit perbedaan dan kontroversi mulai muncul dan dibahas dalam sidang kedua pada tahun 443 SM. Kelompok yang ingin melakukan perubahan aturan menyebut diri sebagai Mahasanghika, sedangkan yang memegang teguh ajaran adalah Sthaviravada. Keinginan Mahasanghika tidak dikabulkan. Mahasanghika merupakan cikal bakal mazhab Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana. Sthaviravada adalah cikal bakal Theravada.
    Terlepas dari perspektif di atas, ada perspektif lain yang semestinya tidak terpisahkan dengan penyelenggaraan sidang kedua. Yaitu, pendisiplinan para Bhikkhu yang mulai berkelit dan melakukan pembenaran atas pelanggaran. Itu sebabnya, agenda sidang kedua lebih terfokus pada penegakan praktik moralitas.
    Setidaknya ada sepuluh hal yang disoroti. Beberapa di antaranya adalah:

    • Praktik menyimpan garam. Bhikkhu tidak boleh menyentuh, memiliki, dan mempergunakan uang maupun benda pertukaran lainnya. Pada saat itu, garam termasuk benda berharga meskipun tidak digunakan dalam transaksi sehari-hari secara langsung. Dianalogikan, menyimpan garam sama halnya dengan kepemilikan obligasi.
    • Praktik Pindapata lebih dari sekali dalam sehari. Para Bhikkhu mendapatkan makanan dari pemberian umat, bukan meminta-minta. Hanya sekali Pindapata dalam sehari untuk satu atau dua kali makan (pagi dan sebelum tengah hari). Kendurnya kedisiplinan terjadi dengan sejumlah Bhikkhu makan terlebih dahulu, kemudian ber-Pindapata lagi.
    • Praktik keliru mengikuti guru. Terikat dengan figur guru masing-masing, ada kebiasaan yang dilakukan oleh sang guru dan ditiru para muridnya. Tanpa peduli apakah kebiasaan tersebut menyalahi aturan kedisiplinan atau tidak.
    • Praktik meminum minuman hasil fermentasi sebelum matang/menjadi arak. Ngakal-ngakali, kan?
    • Praktik penggunaan emas dan perak dengan alas, sehingga terkesan tidak menyentuhnya secara langsung.
  • Dalam sidang ketiga pada tahun 313 SM (atau hampir 2,5 abad setelah sidang pertama), pengulangan sabda dan aturan dari Buddha berlangsung sembilan bulan lamanya. Akibat penertiban ajaran yang dilakukan, ada sekelompok Bhikkhu yang dikeluarkan. Boleh dibilang ini adalah sidang terakhir yang diikuti kedua kelompok bersama-sama.
    Lagi-lagi, ada perspektif baru tentang sidang ketiga. Serupa Konsili Nicea I, para sesepuh melakukan screening, atau pemilahan Bhikkhu sungguhan dan yang hanya ikut-ikutan. Pasalnya, banyak orang yang menganggap kehidupan Bhikkhu itu nyaman. Semua kebutuhan keseharian ditanggung oleh kerajaan.
  • Sidang keempat kelompok Sthaviravada berlangsung sekira tahun 83 SM di negara yang kini menjadi Sri Lanka. Sabda dan aturan Buddha dikodifikasi dan dicatat untuk pertama kalinya di atas daun palem, menjadi tumpukan bundel-bundel Tipitaka per bagian. Ini merupakan langkah pengamanan ajaran, sebab terjadi krisis parah saat itu. Saking parahnya, sampai-sampai menyebabkan tindakan kanibalisme akibat langkanya bahan makanan.
    Tipitaka Pali, kitab suci bagi Buddhis Theravada.
    Seluruh bagian Tipitaka dalam terjemahan bahasa Inggris. Source: Wikimedia

    Kelompok lainnya, Sarvastivada menyelenggarakan sidang keempat di Kasmir sekitar tahun 78 M atas dukungan kerajaan di Afganistan. Catatan hasil sidang ini hanya disimpan oleh kelompok Sarvastivada, dan terus diwariskan hingga ke kelompok Mahayana. Dari hasil sidang ini pula, ada bagian-bagian kitab suci yang ditambahkan. Menyebabkan Tipitaka milik Theravada berbeda dengan Tripitaka miliki Mahayana. Bukan typo atau salah ketik. Memang Tipitaka dengan bahasa Pali yang dipercaya merupakan bahasa tutur Buddha semasa hidup, lalu dijadikan rujukan mazhab Theravada tanpa pengubahan (penambahan/pengurangan) semaksimal mungkin.
    Tripitaka berisi bahasa Sanskerta dengan sejumlah alasan (sejauh ini belum saya pahami sepenuhnya). Mungkin lantaran alasan akademik, mengingat para filsuf dan para scholars Mahayana di masa itu banyak bertutur dan menulis dalam bahasa Sanskerta. Kedudukan Sanskerta kurang lebih seperti bahasa Latin.

  • Kelompok Theravada melanjutkan sidang kelima (tahun 1871) dan keenam (1954). Sidang keenam menjadi fenomenal karena bukan hanya dilangsungkan di era modern, namun sekaligus memperingati 2.500 tahun wafatnya Buddha historis.
  • Baru pada tahun 1966, dibentuk organisasi bersama. Tujuannya adalah melakukan rekonsiliasi. Mustahil untuk menyatukan semua mazhab yang sudah ada hampir seribu tahun, melainkan membahas dan menyepakati inti-inti ajaran sebagai syarat untuk tetap bisa dianggap sebagai agama Buddha.
    Secara formal, ada sembilan poin yang disepakati. Karena panjang-panjang, silakan baca sendiri di tautan Wikipedia berikut ini: Basic points unifying Theravada and Mahayana.
    Btw, banyak yang menganggap Buddhisme adalah ajaran penyembahan berhala, padahal hal itu bertentangan dengan poin nomor 3. Ini menjadi pertanyaan yang paling sering dihadapi para Buddhis, termasuk di Indonesia.

Perbedaan antara mazhab-mazhab agama Buddha agak mirip seperti yang terjadi dalam Islam. Antara Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syiah, lalu ada kelompok Ahmadiyyah dan Khawarij yang dianggap bukan Islam. Sementara perbedaan antara sub mazhab dalam Buddhisme lebih mirip seperti banyaknya aliran gereja dalam Kristen.

Setali tiga uang dengan yang terjadi dalam Islam dan Kristen, tentu ada mazhab agama Buddha dan para Buddhis penganutnya yang seakan mendapat privilese mengklaim sebagai ajaran paling benar, tidak tercemar dengan paham-paham lain, dan paling dekat dengan praktik yang dijalankan Buddha Gotama sendiri semasa hidupnya. Dalam hal ini, tentu saja Buddhis mazhab Theravada.

Dari paparan singkat di atas, kelompok Theravada berpegang teguh pada ajaran yang murni, dan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan semua pokok-pokoknya tetap sama seperti yang pernah diajarkan Buddha sendiri. Sebaliknya dengan kelompok Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang melakukan sejumlah modifikasi.

Tanpa kedewasaan spiritual, persepsi “Theravada ajaran murni, non-Theravada ajaran cemar” sangat berpotensi menumbuhkan sikap fanatisme. Memunculkan orang-orang Buddhis yang merasa berhak dan pantas menghakimi orang lain.

Sebagai seorang Buddhis pembelajar Theravada, saya pernah bersikap seperti ini kepada penganut mazhab lain. Apabila boleh meminjam istilah dari studi keislaman, saya pernah menjadi seorang takfiri, yang dengan mudahnya mengafirkan orang lain, menghardik mereka murtad dan sesat dengan penuh kebanggaan yang salah.

Mengapa saya bisa begitu? Sekali lagi, lantaran berpandangan “Theravada ajaran murni, non-Theravada ajaran cemar!

Lambat laun saya mulai berpikir, bertindak sekeras dan sepongah itu sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kemajuan batin sebagai seorang Buddhis; pembelajar Buddhisme. Sikap tersebut malah membuat saya makin sombong dan jauh dari sikap loving-kindness, memperbesar ilusi ego seseorang yang merasa benar dan terkemuka. Amat bangga dengan kebuddhaan (baca: ketheravadaan) saya, tapi justru menjauhkan saya dari praktik kebuddhaan itu sendiri. Bertolak belakang banget!

Sampai akhirnya saya tiba di satu titik, menyadari bahwa perbedaan pemahaman dan kepercayaan memang tidak bisa dihindari, namun bersikap bijak dan manusiawi bisa dilakukan siapa saja. Berlaku bagi Buddhis, maupun bukan Buddhis.

Di sisi lain, siapakah saya? Kok bisa yakin sekali menentukan benar/kelirunya seseorang dalam mengerti Buddhisme? Toh, saya sendiri juga belum mencapai kesucian, malah baru mendalami ajaran ini saat kelas 2 SMP. Apa yang berhasil saya realisasi sejauh ini bila dibandingkan dengan… Dalai Lama? Pemimpin tertinggi mazhab Tantrayana/Vajrayana, yang selama ini selalu saya lekatkan dengan label sesat!

Ilustrasi lainnya, tradisi mematungkan Buddha (yang kerap dikira berhala sesembahan) berasal dari berabad-abad setelah kematiannya. Lalu, apa terus saya harus mengambil martil dan memecahkan semua patung Buddha yang ditemui? Tidak mencerahkan sama sekali.

Hingga detik ini, saya masih seorang Buddhis pembelajar Theravada. Saya tetap kurang cocok terhadap banyak hal dari mazhab-mazhab yang lain. Beberapa di antaranya:

  • Doktrin Adhi Buddha yang pernah disebut sebagai tuhannya agama Buddha di Indonesia
  • Doktrin tubuh-tubuh metafisika Buddha sebagai objek permohonan
  • Wajib bervegetarian supaya bisa mencapai pencerahan, atau menyucikan batin
  • Figur Amitabha dan Surga Sukacita yang abadi

    Gambaran populer tentang takhta Buddha Amitabha dan surga Sukhavati dalam versi Buddhis Tionghoa.
    Gambaran populer tentang takhta Buddha Amitabha dan surga Sukhavati dalam versi Tionghoa. Source: ywsjt.blog.163.com
  • Figur Maitreya dalam versi yang beredar saat ini, dan institusi sub mazhabnya
  • Praktik berdoa dan memohon kepada para makhluk-makhluk suci
  • Praktik membaca mantra atau sutra berulang-ulang untuk mengikis karma buruk, dan tujuan sejenis lainnya
  • Pengadopsian figur-figur dari kepercayaan Tionghoa termasuk Dewi Guanyin sebagai bagian dari kosmologi Buddhisme
  • Pengkultusan artefak sebagai benda-benda supersuci
  • Klaim Lu Shengyen sebagai Buddha hidup
  • …dan beberapa lainnya

Bigotry is everywhere. Ketidaksukaan dan kebencian terhadap perbedaan akan selalu ada di mana saja, bahkan kepada sesama. Akan selalu ada yang merasa paling benar.

Sebagai takfiri Buddhis, saya telah menjadi bigot kepada Buddhis yang lain. Begitu pula yang terjadi pada rekan-rekan muslim, umat Kristen dengan bermacam jenis gerejanya. Keberadaan bigotry tampaknya alamiah, sebagai salah satu fase sebelum tercapainya kedewasaan spiritual.

Pada akhirnya, kedewasaan spiritual itu bukanlah anugerah atau pemberian. Takarannya terlampau cair untuk dijadikan patokan yang sama bagi semua orang. Kesadaran dan penyadaran pun merupakan pengalaman personal, dengan isi buku/kitab suci sebagai pembentuk bingkainya. Setelah bingkai itu terbentuk, barulah bisa digunakan. Diisi, dipasangi sesuatu di tengahnya.

Dulu, saya pasti langsung gerah dan terganggu dengan patung Vajradhara dan Prajñaparamita di atas. Menyebutnya sebagai simbol kesesatan, cabul, dan bikin umat agama lain salah paham terhadap Buddhisme.

Sekarang, saya lebih kepengin berkomentar: “keren!” dan menjelaskan semampunya, kalau ditanya.

[]

Di-posting pertama kali di Linimasa.com.