Samarinda Pos, Kota Samarinda dan Kerinduan yang Bertahan

17 March 2026

SUDAH bertahun-tahun moved on dari catatan karier sebagai seorang wartawan di kota kecil bernama Samarinda, sampai akhirnya diminta lagi untuk menuliskan sesuatu dalam rangka hari jadi. Tidak apa-apa, namanya juga masih jadi anak daerah dengan segala kenangan dan ceritanya.


Saya meninggalkan Samarinda hampir tepat sepuluh tahun lalu. Sebuah keputusan karier yang secara otomatis menyudahi perjalanan saya sebagai bagian dari tim redaksi Samarinda Pos.

Sepanjang sepuluh tahun itu pulalah, saya terus mencoba untuk tetap tahu apa yang terjadi di Samarinda; apa yang ditambah dan berkurang, apa yang berdegung secara digital dan sedang viral, termasuk bagaimana jurnalisme di Kota Tepian berkembang, untuk kemudian disaksikan atau dialami sendiri saat berkesempatan pulang.

Riuh tak menggantikan jarak

Sekira dua-tiga tahun pertama di perantauan, saya masih cukup rajin mengecek e-paper atau koran edisi digital di sapos.co.id, hingga situs Samarinda Pos bertransformasi beberapa kali dan fitur tersebut tak dilanjutkan*.

Sesuai namanya, e-paper Samarinda Pos memungkinkan saya untuk membaca konten satu edisi secara utuh. Karena artikel berita yang diunggah ke situs sapos.co.id kala itu, biasanya hanya berita-berita pilihan dari halaman-halaman utama (halaman depan, Metropolis dan olahraga).

Aktivitas ini tentu merupakan preferensi pribadi. Tidak semua orang punya kegemaran atau terdorong melakukan hal yang sama. Artikel berita bisa dibaca, didengar atau ditonton bahkan hampir dari mana saja. Namun, bagi seorang perantau minim pengalaman dunia luar saat itu, saya tetap ingin tahu ihwal Samarinda melalui perspektif jurnalisme formal, bukan alternatif.

Jarak memang kian pupus. Hanya perlu sepersekian detik untuk tahu apa yang terjadi di Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan Amerika Serikat maupun peperangan di Timur Tengah. Hanya saja, tetap beda rasanya, ketika saya membaca dan melihat foto Citra Niaga medio 2018-2019 ketika dirombak besar-besaran. Agak jauh imajinasi saya waktu membayangkan ada kawasan bernama “Little Chinatown” atau “Kampung Cina”. Maupun ketika saya terpapar foto terowongan yang menembus bukit di Selili. Tentu saja di samping kabar-kabar tipikal Samarinda pada umumnya: banjir, lalu lintas alur sungai, eksploitasi Sumber Daya Alam (yang masih tersisa), hiruk pikuk Ibu Kota Nusantara, dan sebagainya.

Media alternatif yang memperkaya

Bukan tren namanya, jika kemunculan, ledakan, dan pergantiannya tidak berlangsung sangat cepat. Dan merupakan hal lumrah ketika justru lebih banyak orang yang mulai tertarik atau baru tahu tentang Samarinda bukan melalui pemberitaan formal.

Seakan-akan seleksi alam; memisahkan antara khalayak yang benar-benar tertarik tentang Kota Tepian dan humanity (kemanusiaan) di dalamnya, dengan sekelompok besar pirsawan yang hanya bersemangat meninggalkan komentar untuk topik-topik hangat berumur singkat.

Untuk itulah situs-situs berita alternatif, redaksi berbasis media sosial, maupun para pekarya maya baik itu content creator maupun influencer menjalankan fungsinya. Mereka menggali, menemukan, dan menyepuh topik-topik baru. Lantas, manakala hal tersebut benar-benar krusial dan berdampak bagi hajat hidup orang banyak, menjadi keniscayaan bagi para pewarta formal untuk menggaungkannya ke level yang lebih tinggi.

Tak dimungkiri, media massa adalah salah satu sektor usaha. Namun, berita sejatinya tetap punya daya kuasa untuk kebaikan bersama. Tergantung siapa yang menunaikan tanggung jawabnya.

Saya masih ingat beberapa belas tahun lalu, saat berlangsung diskusi di ruang redaksi lantai 3 Jalan Untung Suropati. Saya membahas (baca: mendebatkan) tentang “mengapa kita harus membuat akun Twitter untuk Samarinda Pos?” dengan Mas Yudy, redaktur senior saat itu. Kini, outlet media bukanlah benar-benar jenama kalau konten-konten beritanya tak turut disebarluaskan lewat Instagram maupun Tiktok.

Saya niatkan tulisan ini sebagai “hadiah” hari jadi ke-27 tahun Samarinda Pos, teriring salam hormat dan persahabatan kepada rekan-rekan redaksi serta seluruh komponen perusahaan, serta doa terbaik bagi yang telah dahulu berpulang.

Selamat ulang tahun Samarinda Pos. Selalu maju dalam karya memajukan Samarinda.

Samarinda Pos

Foto kiriman pembaca 😅

[]

*Berhenti sementara, untuk kemudian disediakan kembali tetapi dalam format berlangganan.