Pranikah, Pranikah, Pranikah!

524
views

ENTAH, apakah ini valid atau tidak, ketika seseorang yang belum menikah membuat tulisan soal beginian (sudah ada beberapa*)). Seringnya gemas dan geregetan dengan drama rumah tangga yang kayaknya… uncontainable.

Harap maklum, this is how I see as an outsider, pastinya.

Hanya bermodalkan common sense dan logika, sedikit pengalaman beberapa kali berpacaran, persepsi etis sosial dan bukan sebatas satu atau dua kaidah agama tertentu (Samawi maupun non Samawi), serta respek kepada setiap orang bahwa kehidupan mereka unik dan tidak ada yang sama.

Selalu dan selalu, pernikahan serta kehidupan setelahnya menjadi topik pembicaraan yang membahana ketika mudik. Termasuk saat pulang kampung akhir November lalu.

Yang dibahas sebenarnya masih soal itu-itu saja, intinya pun tidak banyak yang berubah. Hanya saja diperbincangkan kembali lantaran situasi terkini para lawan bicara. Ada lajang yang gelisah, lajang yang chill saja, mereka yang tengah berpasangan, atau pun yang kembali bersendirian… dan tentu saja diawali dengan pertanyaan-pertanyaan basi yang mau tak mau tetap harus dijawab. “Kamu kapan, Gon?”; “Sudah ada calonnya, Gon?”; “Mau sampai kapan, Gon?” 😅

Setiap kali pulang ke Samarinda, seperti lazimnya yang terjadi di mana-mana, selalu ada yang…

  • baru jadian;
  • ada yang putus;
  • ada yang merencanakan pernikahan;
  • ada yang baru bertunangan;
  • ada yang sedang sibuk-sibuknya menghadapi drama dua keluarga menjelang hari H;
  • ada pasangan pengantin baru;
  • ada pasangan pengantin baru yang sedang dalam masa kaget (soal hubungan seksual, soal hidup bersama, soal mertua, soal drama bersama pasangan, soal perubahan pola kehidupan, dan sebagainya);
  • ada yang sedang hamil anak pertama maupun yang kesekian;
  • ada yang baru melahirkan dan merasakan jadi orang tua untuk pertama kali.

Pertukaran informasi deras terjadi di antara mereka, terutama para calon pengantin. Entah nervous atau excited, heboh menanyakan segala hal kepada pasangan yang lebih dahulu menikah. Terkecuali perihal romansa, asmara, cinta, dan rumah tangga.

Semoga semuanya sesuai dengan bayangan mereka. Kalaupun tidak, semoga mereka bisa menyikapinya dengan kedewasaan dan kemampuan yang memadai.

Menariknya, ada tiga hal yang sering dikesampingkan. Dikalahkan dengan segudang urusan-urusan teknis serta seremonial, dan baru menarik perhatian mereka kala ada yang menyinggungnya. Padahal secara langsung dan nyata, ketiga hal tersebut berpengaruh penting terhadap kesiapan mental dan fisik para calon pengantin. Apa pun hasil akhirnya, mantap untuk menikah atau sadar lebih awal dan batal menundanya. Pasalnya, toh lebih baik tidak jadi, daripada nantinya menyesal telah menikahi orang yang salah tetapi terlampau takut dan malu untuk berpisah.

Source: Junebug Weddings

 

Kursus & Konseling Pranikah

Walaupun disebut kursus, kegiatan ini jelas tidak dilaksanakan di lembaga-lembaga latihan dan keterampilan. Lagipula, banyak orang Indonesia yang beranggapan bahwa keterampilan menjalani pernikahan akan tumbuh dan bertambah sejalan waktu, atau diturunkan oleh orang tua dan sesepuh. Setidaknya sampai sang maut memisahkan, atau lewat perceraian.

Dengan beragam adat budaya dan kaidah sosial, akan ada banyak sekali formulasi dan kurikulum yang bisa disampaikan dalam kursus pranikah ini. Biar gampang, pakai jalan pintasnya saja: agama. Secara umum dianggap sebagai perspektif yang paling benar untuk dijadikan pedoman.

Kursus pranikah pun umumnya diberikan lembaga keagamaan masing-masing. Di Kantor Urusan Agama (KUA) bagi calon pengantin muslim, selebihnya dilangsungkan di gereja maupun vihara. Terkadang juga dibarengi dengan sesi-sesi konseling pranikah, lebih ke arah konsultasi dan tidak melulu dijejali doktrin-doktrin keagamaan. Minimal untuk memastikan keteguhan hati para calon mempelai. Menguji, bukan menakut-nakuti. Karena masa depan justru bisa jauh lebih menakutkan ketimbang yang sedang dibayangkan.

Rentang durasi kursus dan konseling pranikah tergantung ketentuan program yang diberlakukan pengurus tempat ibadah. Biasanya pun disesuaikan dengan pakem denominasi yang telah disusun, alias sudah diawasi dan disetujui majelis pemuka agama terkait. Kepesertaan juga kerap dijadikan syarat sebelum pemberkatan nikah dilakukan.

Sebagai ilustrasi, salah satu vihara mewajibkan pasangan calon mempelai hadir di semua sesi kursus pranikah. Tidak boleh absen, dan harus datang berdua. Apabila jadwal yang disusun berlangsung selama tiga bulan, ya harus hadir tanpa bolong. Jikalau syarat ini tidak dipenuhi, pengurus vihara tersebut bisa saja menunda pemberkatan pernikahan.

Ilustrasi berikutnya. Sebagai agama resmi “termuda” di Indonesia, subjek kursus dan konseling pranikah Khonghucu barangkali tidak sekompleks katekisasi gereja Katolik. Misalnya.

Agama memang merupakan salah satu bagian terpenting dalam pernikahan. Selain dianggap sakral—ikatan suci dan dikukuhkan di hadapan tuhan—serta menambah kesan dramatis monumental, pada praktiknya dokumen pemberkatan pernikahan juga dijadikan syarat Pencatatan Sipil demi status hukum di mata negara. Kendati tak mutlak diharuskan, seperti pada pernikahan beda agama. Kalau begini, kursus pranikah bernuansa keagamaan akhirnya jadi ritual belaka. Hanya mengejar rasa dan status sah, tidak benar-benar mempersiapkan calon pengantin sebagaimana mestinya Agama lagi-lagi cuma jadi jargon, dan tak benar-benar dijadikan pedoman menjalani kehidupan pernikahan.

Tantangannya, kursus dan konseling pranikah bernuansa keagamaan harus bisa dibuat lebih radikal supaya tepat sasaran, menghentak, dan sangat mengusik supaya dipikirkan dalam-dalam. Tak lain agar kedua calon mempelai benar-benar siap dengan situasi yang bakal mereka hadapi. Namanya juga konseling, bimbingan diberikan secara dua arah dan interaktif. Kedua calon mempelai mendapatkan pengajaran keagamaan tentang kehidupan rumah tangga, dan berhak bertanya serta berdiskusi personal. Begitu pun sebaliknya, sang pengajar memiliki wawasan luas sehingga dapat memberikan pandangan yang tepat bagi pasangan.

Contohnya, mengambil bahasan yang krusial: seksualitas. Tidak sekadar menyampaikan adab bersetubuh, konselor pranikah juga mendorong kedua calon mempelai saling terbuka mengenai kehidupan seksual mereka jika dibutuhkan. Apalagi kepada pasangan yang konservatif (menikah sebagai perjaka dan perawan) Sedikit banyaknya, keterbukaan semacam ini amat penting biar kedua calon mempelai dapat mengenal satu sama lain lebih dalam, mengurangi potensi terkejut setelah baru menikah, dan membangun komunikasi. Katakanlah si cowok gemar menonton pornografi, apakah calon istrinya mengetahui hal ini? Bagaimana tanggapannya?

Kasus lain lagi, katakanlah si cowok sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan orang lain, bagaimana sang calon istri menyikapinya? Bahkan sampai urusan-urusan intim serupa, sebatas yang nyaman dikonsultasikan. Tujuannya tentu bukan untuk membuka aib masa lalu, melainkan tampil apa adanya tanpa menutup-nutupi. Meminimalisasi drama.

Seumpama tahu sedari awal, enggak perlu ada “kemeriahan” dengan alasan seperti ini.

Sekali lagi jangan lupa, diperlukan pemuka agama atau pembimbing pranikah yang luwes, arif dan bijaksana, serta berpikiran terbuka untuk menjalankan fungsi ini. Menjadikan perspektif agama kembali relevan dalam kehidupan keseharian yang kian modern ini.

Terakhir saya tahu dari kawan, ada satu (atau dua) denominasi gereja di Jakarta yang mempunyai sesi-sesi konseling pranikah seradikal ini. Saya berasumsi, hasil akhirnya terbagi tiga jenis. Ada pasangan yang mulai meragukan rencana mereka atau malah batal menikah, ada pasangan yang got a lot more things to work out to, ada juga pasangan yang perasaan cintanya bertambah kuat dan makin mantap.

Pemeriksaan Kesehatan Pranikah (Premarital Checkup)

Konseling pranikah memastikan kesiapan mental, moral, dan batin calon pengantin. Sedangkan pemeriksaan kesehatan pranikah memastikan kesiapan fisik dan fisiologi mereka. Dengan harapan agar pernikahan berjalan baik, dan pasangan suami istri bisa memperoleh kelancaran, dihindarkan dari berbagai risiko kesehatan.

Setiap orang, setiap pasangan, berhak untuk punya keyakinan dan optimisme yang tinggi terhadap segala hal. Termasuk kondisi tubuh. Bagaimana pun juga, mencegah selalu lebih baik dibanding mengobati. Pemeriksaan kesehatan pranikah berfungsi memastikan hal tersebut.

Katakanlah, amit-amitnya ada pasangan suami istri yang tak kunjung dikaruniai anak. Kita bisa menyaksikan sendiri, betapa masalah ini berubah menjadi drama. Baik sang suami maupun istri beserta kubu keluarga masing-masing, tidak terima disebut sebagai pihak yang mandul. Belum lagi kejadian sang suami akhirnya berselingkuh, dengan alasan sang istri tidak mampu memberikan keturunan.

Perkara ini bisa diantisipasi lebih awal dengan pemeriksaan kesehatan pranikah. Kedua calon mempelai dihadapkan dengan kemungkinan-kemungkinan. Paling tidak mereka menyadarinya di depan, lalu punya kesempatan untuk berembuk. Apa pun hasilnya, itulah yang terbaik bagi kedua belah pihak. Pun dengan deteksi peluang terjadinya kelainan genetika pada anak, dan sebagainya.

Katakanlah lagi, si cowok mengaku perjaka dan memiliki organ reproduksi yang bersih dalam sesi konseling. Hal itu bisa dibuktikan dengan pemeriksaan kesehatan. Sangat tidak lucu kalau tahu-tahu ada yang terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS), kemudian menularkannya ke pasangan dan anak.

Perjanjian Pranikah (Prenuptial Agreement)

Sepengalaman saya, banyak orang yang tersinggung dan risi terhadap hal ini. Sebab perjanjian pranikah identik dengan kepemilikan harta dan pembagian gana-gini, yang baru akan terjadi dalam perceraian.

🧔🏾: “Sayang, sebelum menikah kita bikin prenup agreement, yuk?”
👩🏻: “BUAT APA? MEMANGNYA KITA NANTI MAU CERAI?

Saya masih agak awam ihwal ini, namun perjanjian pranikah tidak semata-mata mengatur harta dan perpisahan. Bisa saja ada klausul yang disusun untuk melindungi harta perseorangan atau gabungan dari kegagalan bisnis, memisahkan aset pribadi/pasangan dan aset perusahaan.

Di sisi lain, perjanjian pranikah dapat disodorkan dalam kasus hubungan beda strata sosial yang sinetron banget. Katakanlah si cowok berpacaran dengan cewek tajir. Demi harga diri dan sebagai pengaman, perjanjian pranikah bisa digunakan untuk menyumpal mulut-mulut pencela, yang hobi nyebut orang lain mokondo. 

Lagian, ikatan pernikahan kan tak ubahnya kontrak, perjanjian. Saling menggadaikan diri pada satu sama lain, sampai akhir hayat.

Biarlah cinta, kalian saja yang rasa. Enggak perlu bersusah payah ditunjukkan kepada orang lain untuk penerimaan dan pengakuan sosial.

[]

*) Beberapa tulisan lain tentang pernikahan sebagai institusi, dan sebagai trofi sosial:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

seventeen − 7 =