Logo Wisata: Magnificent Samarinda

468
views

INI saatnya untuk branding wisata Samarinda. Sepenuh hati dan seoptimal mungkin.

Logo komersial tentu berbeda dengan emblem atau lambang resmi pemerintah daerah (provinsi, kabupaten, kota). Emblem atau lambang resmi merupakan identitas administratif, sedangkan logo komersial bersifat lebih fleksibel dan digunakan untuk kepentingan pemasaran dan branding. Intinya, dipakai buat “jualan”.

Semenjak Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar RI) meluncurkan logo komersial “Wonderful Indonesia” dan “Pesona Indonesia” beberapa tahun lalu, sejumlah daerah yang telah memiliki strategi pemasaran pariwisata di Tanah Air pun mulai mengejar membuat logo komersialnya masing-masing.

Destination brand baru 10 destinasi.(Foto:YD)
Source: Indonesiatouristnews.com

… dan Samarinda, baru-baru ini, sedang mengarah ke sana. Syukurlah, setidaknya perubahan itu kian nyata dibanding sebelumnya, ketika terkesan sangat bermasalah soal desain.

Source: @Fotodeka

Berawal dari twit di atas, ketahuan bahwa salah satu instansi vital Kota Tepian tengah menawarkan logo komersial pariwisata Samarinda. Konon sudah final dan siap diresmikan wali kota, dilengkapi sederet penjelasan mengenai latar belakang, filosofi, dan aspek-aspek visual lainnya.

Sedangkal pengamatan saya, kurang lebih begini. Logo berupa tulisan “Magnificent Samarinda” (atau magnificent SAMARINDA?), dengan huruf “AMA” pada kata “Samarinda” yang menyambung jadi satu menggunakan bentuk rangka segitiga Truss berpadu dengan lengkungan positif menghadap ke atas. Ya! Inspirasinya mengambil dari Jembatan Mahakam, Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), dan Jembatan Mahakam Kota (Mahkota) II.

Lalu, bagian di bawah ini untuk menjelaskan apa? Mengapa perlu disertakan dalam penjelasan latar belakang? Tidak tampak adanya bentuk heksagon pada logo “Magnificent Samarinda” di atas. Khawatirnya malah menimbulkan pertanyaan yang tidak perlu.

Obrolan dan interaksi menghangat di media sosial. Tanggapan yang terbaca sejauh ini masih didominasi komentar netral dan cenderung negatif. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul cenderung praktis:

  • Kenapa “AMA” yang disambung begitu? Agak susah terbaca, jadinya “Magnificent SMRINDA”
  • Kenapa harus pakai bahasa Inggris, sih? Kenapa pilih kata magnificent? Apa saja aspek-aspek yang dilihat dari Samarinda sampai akhirnya tim perancang logo memilih kata yang berarti “sangat indah”, “luar biasa indah”, atau “spektakuler” itu? Kata magnificent sendiri lebih identik pada tampilan atau pemandangan alam, bangunan yang megah dan dirancang sedemikian bagusnya, atau sesuatu yang dibuat sedemikian berkesan.

Apabila mengacu pada logo dari Kemenpar RI dalam panduan resminya (format PDF), “Wonderful Indonesia” berdampinginan dengan “Pesona Indonesia” untuk penyesuaian penggunaan. Aspek-aspeknya pun mencakup:

  • Natural Wonders (keindahan alam di darat dan laut)
  • Sensory Wonders (kuliner, kontak fisik, dan hiburan)
  • Cultural Wonders (kesenian dan kebudayaan)
  • Modern Wonders (kehidupan modern)
  • Adventurous Wonders (aktivitas eksplorasi dan olahraga)

Kecuali keindahan alam dan laut, Samarinda memenuhi semua aspek di atas. Nah, tantangannya, apakah logo “Magnificent Samarinda” dipersiapkan untuk itu?

Selebihnya, ada dua logo turunan “Magnificent Samarinda” yang turut ditunjukkan.

Lagi-lagi, apakah “AMA” terbaca? Source: @Suparmin

Namun, apa pun pertanyaan dan kritik yang disampaikan, toh logo “Magnificent Samarinda” segera disahkan. Ya, sudah, dinikmati saja.


Seperti yang terjadi di kota-kota lain, yang seru dalam diskusi di lini masa media sosial ialah munculnya versi alternatif–bila tak ingin disebut tandingan. Dirancang dan ditampilkan secara pro bono. Sebuah pancingan kreatif, dan sekali lagi mengingatkan kita betapa potensial sesungguhnya kualitas orang-orang Samarinda di mana pun mereka berada saat ini.

Source: @Firda_za
Keempat lingkaran menceritakan tentang pola Sarung Samarinda, Islamic Center Kaltim, dan Jembatan Mahkota II. Source: @Firda_za
Source: @Firda_za

Saking intensnya, sampai dibuatkan mock-up penerapannya.

Source: @Firda_za

Sudah menjadi pengetahuan umum, logo komersial yang baik dan ideal memiliki kualitas versatile atau serbaguna. Mudah dimodifikasi, mudah diapa-apain untuk berbagai keperluan dan platform media, tetapi tidak sampai kehilangan karakteristiknya, dan tetap bisa dikenali sebagai sebuah kesatuan. At least, agile improvement. Jangan lupa. 😃

Semoga sumbang saran nan sepele ini bisa bermanfaat bagi branding Samarinda ke depannya. Biar makin bangga jadi orang Samarinda, meskipun berada di seberang lautan sana.

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

15 − four =