Jadi Tahu: Investasi Saat Pandemi

54
views

INI bukan soal belajar investasi saat pandemi, tetapi lebih berupa potongan-potongan informasi yang dilihat dan dialami sendiri setidaknya sepanjang setengah tahun terakhir. Sejak pandemi mulai terjadi.

Kesadaran untuk menabung, berinvestasi, memiliki asuransi, atau untuk melakukan pengelolaan keuangan pribadi yang baik memang harus tumbuh dari dalam diri sendiri. Bukan karena terpaksa, dipaksa, ditakut-takuti, atau alasan eksternal lainnya. Sebab dalam kondisi normal (ekonomi berjalan baik, uang saku atau gaji lancar, kehidupan masih ditanggung orang tua), pasti ada keengganan untuk menyisihkan sebagian uang yang dimiliki demi bayang-bayang, sesuatu yang belum kelihatan. Pada kenyataannya, seseorang baru menyadari bahwa dirinya boros setelah kaget melihat uang yang sudah hilang entah ke mana dan jadi apa saja. Efeknya jauh lebih kuat dibanding teguran atau nasihat “Kamu jangan boros-boros dong.” 

Rela tidak rela, suasana pandemi yang sudah berlangsung lebih dari setengah tahun ini jadi pengalaman belajar cukup keras bagi saya, dan tampaknya bagi banyak orang yang lain.

∙ Likuiditas itu penting

Dalam situasi yang mendesak, ketersediaan uang tunai adalah pengaman paling mendasar. Makanya, gaji dan tabungan konvensional punya fungsi krusial. Kalau enggak ada gaji, mau punya duit dari mana? Lalu, kalau tidak punya tabungan konvensional, mau ambil duit cepat dari mana? Meskipun punya investasi emas, reksa dana, saham, apalagi obligasi dan surat berharga lainnya, butuh waktu pencairan. Kalaupun punya mata uang asing sebagai simpanan, mesti ditukar terlebih dahulu baru bisa dipakai belanja makanan.

two Euro banknotes
Uang untuk belanja.
Source: Christian Dubovan

Istilah “uang tunai” dalam konteks ini barangkali agak kurang tepat. Belanja kebutuhan harian pun bisa dilakukan menggunakan dompet digital … selama tidak ada gangguan jaringan, gangguan aplikasi, dan tentu saja ada saldonya. Pada intinya, ada uang yang bisa dibelanjakan saat perlu.

∙ Emas Murni, Surat Berharga Negara, Reksa Dana Pasar Uang 

Tujuan investasi adalah untuk mengelola dan mengembangkan uang yang kita miliki. Beranjak dari situ, setiap orang memiliki tujuan tambahan yang berbeda-beda. Ada yang ingin punya uang lebih banyak (membeli instrumen investasi yang lebih likuid), ada yang ingin punya aset harta lebih banyak (membeli instrumen investasi yang kurang likuid), ada yang ingin punya sistem/bisnis yang menghasilkan; dan sebagainya.

Di bagian ini, saya tidak bisa bicara banyak tentang investasi aset maupun sistem/bisnis. Belum terlalu berpengalaman. Belum pernah menjual tanah maupun properti lainnya, sedangkan dalam bisnis cuma pernah mengalami kerugian, dan berhenti dalam keadaan pakpok atau impas. Namun, saya masih semringah sama emas murni, Surat Berharga Negara (SBN) eceran, dan reksa dana khususnya Pasar Uang. 

Senin (7/9) kemarin, harga emas murni mencapai Rp1.020.000 per gram. Saya pun masih ingat, ketika bertanya penuh keengganan ke diri sendiri: “Ngapain sih beli emas kepingan?” untuk pertama kali beberapa belas tahun lalu. Saat itu, emas murni Aneka Tambang (Antam) seharga … Rp350.000 per gram. Katanya, kalau vaksin sudah ditemukan dan kondisi ekonomi dunia perlahan membaik, harga lazim emas murni paling-paling turun ke Rp850 ribuan. I rest my case on goldbar investment. Hanya saja, harganya sudah tinggi, mungkin lebih cocok sebagai medium simpanan. Terima kasih untuk yang pertama kali memperkenalkan investasi emas murni.

Soal SBN, entah apa untungnya bagi negara (sebagai penerbit) dengan mengeluarkan varian eceran. Yang pasti, bagi saya, SBN eceran adalah alternatif “penyimpanan uang” yang lebih menguntungkan dibanding deposito. SBN eceran pertama yang saya beli adalah Sukuk Retail (SR) lupa tahun berapa, dan belum bisa dibeli daring. Iseng beli Rp5 juta, dan tahu-tahu dapat imbal hasil yang dikreditkan ke rekening bank setiap bulan. 

Kini semuanya jauh lebih mudah. Remaja dan early adult sekarang jauh lebih beruntung karena tidak perlu datang ke kantor cabang bank, mengantre layanan Customer Service (CS), untuk kemudian bertanya tanpa informasi latar yang memadai demi mengurus SID investor untuk bisa membeli SBR atau Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Cukup lewat aplikasi. Apalagi di kota daerah macam Samarinda. Dalam kasus saya, sempat dicurigai sebagai mystery shopper dari BAPEPAM sampai digiring ke area khusus nasabah prioritas supaya bisa beli instrumen investasi. Hahaha!

Begitu pula tentang reksa dana. Dahulu, semurah-murahnya, reksa dana bisa dibeli mulai dari Rp250 ribu via bank (di tahun yang sama, perusahaan Sekuritas di Samarinda masih menetapkan modal minimal untuk bisa berinvestasi via mereka adalah sebesar Rp20 juta!). Sementara beberapa tahun terakhir, duit Rp10 ribu pun bisa buat beli reksa dana tertentu, dan barulah saya menyadari potensi besar reksa dana Pasar Uang yang selama ini selalu dikesampingkan.

Sejak pertama kali berkenalan dengan reksa dana, perhatian selalu tertuju pada reksa dana saham atau campuran karena proyeksi hasil investasi di masa depan. Begitu pandemi terjadi dan ekonomi terimbas parah, reksa dana Pasar Uang keluar sebagai yang paling kuat. Tetap menanjak, ketika yang lainnya naik turun seperti tebing dan lembah. 

∙ “Main” saham 

Saham memang merupakan salah satu instrumen investasi yang menarik. Hanya saja, kalau ingin benar-benar berinvestasi menggunakan saham, lebih baik kumpulkan uang supaya bisa beli saham-saham perusahaan kuat, tambah secara berkala, lalu lupakan. Tidak usah sering-sering ditengok, daripada kaget waktu melihat nilainya berkurang dari total uang yang yang sudah kita gelontorkan. 

Semuanya kita lakukan sendiri; setor uang, beli saham, jual saham, pencairan. Berani menitipkan ke orang lain, berani menghadapi konsekuensi.

Namun, kalau ingin bermain saham untuk memanfaatkan momen keuntungan, ya … bermain-mainlah semampunya. Namanya juga “permainan”, mirip judi. Ada yang sanggupnya selevel “God of Gamblers”-nya Chow Yun Fat, ada juga yang levelnya main di Las Vegas atau Singapura, tetapi ada pula yang levelnya main gaple di poskamling pakai taruhan uang receh. Sehingga kalau rugi dan kehilangan uang, tidak sampai bikin sakit hati, dan tidak mengganggu keseharian.

Grafik saham untuk belajar investasi saat pandemi
“Perjalanan” salah satu emiten sejak Maret.

Bagaimana jika untung? Ya, terserah. Mau disimpan sebagian, dibelanjakan lagi seluruhnya, atau disimpan semua, silakan putuskan sendiri. Untung atau rugi ada di tangan sendiri, dan sekali lagi, masa pandemi menjadi momen yang unik. Menunjukkan kinerja indeks yang sempat ambruk di April-Mei lalu, hingga kemudian sebagian di antaranya kembali melambung tinggi. Mereka yang sempat beli saat harga anjlok, tentu sudah hijau sekarang.

Apabila malas ribet, harga emas murni tidak terkejar, enggan berkenalan dengan SBN, reksa dana dan sejenisnya, serta ogah bermain saham, kembali ke poin pertama saja: Menyimpan dan menabung senyamannya. 

Mudah-mudahan kita semua memiliki, mengupayakan, dan menjaga keleluasaan dalam hidup. Biar tidak repot sendiri, dan tidak merepotkan orang lain. 

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twelve − 1 =