"Dik, Cari Siapa Ya…?"

3
views

HINGGA kini, ungkapan “don’t judge the book by its cover” masih terus berkumandang entah sejak kapan. Ungkapan ini berusaha untuk menunjukan bahwa masih banyak hal lain yang bisa dijadikan bahan pertimbangan saat menilai seseorang, selain apa yang dilihat lewat pandangan mata. Tapi rasanya, meskipun ungkapan berbahasa Inggris itu sudah beredar sejak lama, selama itu pula masih banyak orang yang cenderung tunduk pada penilaian matanya.

Sebagai seseorang yang bisa dilihat dengan mata, saya juga pernah mengalami kondisi sebagai objek dari ungkapan di atas. Salah satu di antaranya adalah ketika masih aktif menulis formal sebagai jurnalis, yang harus berjibaku dengan target artikel dan otomatis mengharuskan saya bertemu dan berbincang dengan seseorang.

Lupa kapan, saat itu kebetulan sedang mendapat tugas untuk bertemu dengan petinggi di sebuah instansi pemerintahan. Dengan standar birokrasi yang agak berbeda, akhirnya bisa bertemu dengan si bapak, dan bertandang ke kantornya.

Tiba di kantor instansi pemerintahan tersebut, menghadap dengan si sekretaris,  disambut dengan pertanyaan “Dik, cari siapa ya?”. Saya menyatakan diri sebagai jurnalis harian dan sudah punya janji dengan si bapak. Si sekretaris meng-interkom, dan akhirnya mempersilakan masuk.

*masuk ke ruangan*

Si bapak terlihat kaget

*dipersilakan duduk*

Akhirnya si bapak pun bertanya.

Bapak: “Adik ada keperluan apa ya? Ini adik mahasiswa dari Universitas Mulawarman kan?”

*ekspresi wajah agak melongo*

Saya: “Bukan pak, saya memang mahasiswa tapi saya yang janji mau wawancara dengan bapak.”

Bapak: “Serius? Kamu wartawannya? Kok masih muda betul?”

*senyum* (alias bingung harus menjawab apa)

*wawancara pun dilanjutkan*

Meskipun permasalahan tampang yang tidak sinkron dengan profesi seolah sudah selesai, namun seperti yang bisa diduga sebelumnya, panggilan “Dik” selalu digunakan sebagai sebutan dari si bapak kepada saya. Selain itu, jelas terlihat dari ekspresi wajah, bahasa tubuh, konteks dan konten kalimat seolah berkata, “Ah, ini cuma anak kecil, ndak usah terlalu serius ngomongnya.”

Si bapak sesekali terlihat kaget ketika saya menjalankan tugas sebagai jurnalis; bukan sekadar bertanya, menyimak dan mencatat jawaban, tapi berusaha menggali sisi lain dari respons yang diutarakannya. Belum lagi setelah hasil perbincangan tadi mewujud jadi sebuah artikel.

“Yah, namanya juga baru pertama kali bertemu,” celetuk dalam hati.

Tidak selamanya sih salah penilaian karena tampilan fisik ini menjadi sebuah masalah, toh, biar tampang terlihat kurang meyakinkan, yang penting bisa dibuktikan lewat hasil pekerjaan, kan?

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × five =