Bahasa Film Hong Kong: Kasar, Kurang Ajar, tapi Kadung Kocak

1754
views

BAGI saya, selalu ada kesenangan tersendiri saat menonton film Hong Kong dalam bahasa aslinya–tutur Tionghoa dialek Guangdong/Cantonese yang terkesan nyolot itu. Apalagi untuk judul-judul komedi slapstick dengan para bintang film yang khas; Stephen Chow atau–entah dari mana awal mulanya bisa dipanggil–“Asui”, Ng Man-tat, Law Kar-ying, Sandra Ng, almarhumah Anita Mui, Natalis Chan, Wong Jing si sutradara nyambi aktor lakon konyol, juga Lee Kin-yan dengan cameo legendaris sepanjang masanya: banci berengosan dengan kuncir rambut yang ngupil, serta masih banyak lagi. Pasalnya, dialog dan celetukan Cantonese yang dilontarkan memperkuat efek lucu yang ditampilkan, entah kita paham maknanya atau hanya bisa membaca subtitle-nya. Paduan itu semua menjadi salah satu karakteristik khusus film-film Hong Kong.

Lambat laun, pendengaran kita pun kian akrab dengan beberapa celetukan dari film Hong Kong. Minimal, kita ingat pernah mendengarnya, dan kita ingat terusan adegan yang terjadi setelah celetukan itu diucapkan. Padahal, tidak sedikit dari celetukan tersebut merupakan sumpah serapah yang arti harfiahnya benar-benar kurang ajar. Akan tetapi, sudah telanjur kita identikkan dengan humor gaya Hong Kong. Lagipula, teks terjemahan yang ditampilkan kerap sangat diperhalus, bahkan mengaburkan makna sebenarnya, saking kasarnya.

Contohnya, berikut ini adalah beberapa celetukan dari film Hong Kong yang melekat di ingatan saya.

  • “ham kaa chan”
  • “phat pho”
  • “pak chii”
  • “lei lou mou”
  • “chou sii”
  • “ham sap lou”
  • “sek sii”

…dan baru dalam beberapa tahun terakhir saya tahu maknanya.

  • “ham kaa chan” (冚家剷, Mandarin: kan jia chan) berarti “Mati kamu! Sekeluarga-keluargamu!” Dengan makna harfiah “seluruh keluarga dikubur.”
  • “phat pho” (八婆, Mandarin: ba po) berarti “l*nte”, karena kata “pelacur” masih terkesan halus
  • “pak chii” (白痴, Mandarin: baichi) berarti “idiot”
  • “lei lou mou” (你老母, Mandarin: ni laoma) berarti “mamakmu!
  • “chou sii” (臭西, Mandarin: chou xi) berarti “m*ki bau”
  • “ham sap lou” (鹹濕佬, Mandarin: xian shi lao) berarti “laki-laki mesum”
  • “sek sii” (食屎, Mandarin: shi shi) berarti “makan taik

Dari beberapa contoh di atas, justru terasa aneh apabila diucapkan dalam dialek Mandarin. Seolah-olah menunjukkan bahwa makian tersebut memang tercipta untuk tutur dialek Cantonese saja. Default dengan intonasinya yang khas. Lantaran ini, agak terasa janggal apabila melihat Stephen Chow dkk berbicara dengan logat Mandarin internasional yang kadung terkesan lebih sopan.

Lewat Googling, ternyata masih ada banyak serapah lainnya ala film Hong Kong dengan arti yang bisa bikin geleng-geleng. Ada yang artinya kurang lebih “motherfcker” atau “son of a btch” dalam bahasa Inggris, ada pula yang sepadan dengan makian bahasa Kutai atau Melayu: “kimaknya!

Tapi jangan lupa, terlepas dari begitu “kayanya” perbendaharaan kata-kata makian dalam dialek Cantonese, secara umum kosa kata bahasa sub suku Tionghoa ini dilontarkan dengan kencang dan keras. Seperti mengajak berkelahi dengan akhiran kalimat berupa seruan “a…” (啊) atau “ya…” (呀) panjang, maupun beberapa konsonan tertentu lainnya.

Di sisi lain, saya merasa dialek Cantonese yang begituitu mirip gaya tutur Suroboyoan atau bahasa Jawa ala Surabaya maupun Jawa Timur secara umum. Pun serupa dengan tutur slang bahasa Banjar, Kalimantan Selatan. Kedua bahasa berbeda pulau tersebut sama-sama memiliki karakteristik dilafalkan dengan intonasi keras dan nyaring. Suroboyoan misalnya, berbeda dengan tuturan di Jawa Tengah maupun Yogyakarta.

Seperti yang ditunjukkan lewat eksperimen kecil-kecilan yang berpotensi besar untuk ngaco ini.

Cantonese: “lei kaau cho aa…” (你搞錯啊…)

Suroboyoan: “heh! Ngawur koen iku…”

Banjar: “bah! Nyawa tuh mengeramput…”

atau ini,

Cantonese: “fai tiin aa…” (快點啊…)

Suroboyoan: “ayo, ndang!”

Banjar: “lajui pang!”

Biar makin jelas, sila tonton cuplikan ini.

Ala Cantonese

Bandingkan dengan adegan yang sudah disulihsuarakan ke dalam dialek Mandarin berikut.

Kedua video memiliki subtitle yang sama, tetapi subtitle tersebut sebenarnya dibuat sesuai versi Mandarin (video kedua) agar bisa dibaca dan dipahami secara umum. Pasalnya, tidak semua bahasa Cantonese bisa dimandarinkan.

Mana yang terdengar lebih meledak-ledak, versi Cantonese (video pertama) atau versi Mandarin (video kedua).

Ala Suroboyoan

Lebih lanjut, silakan saja tonton JTV, stasiun televisi lokal Surabaya yang bikin ngakak dengan menyulih suara film-film barat dan telenovela dengan bahasa Suroboyoan. Juga video Doraemon bahasa Banjar seperti ini.

Ala Banjar (dan paling sengklek bahasanya, kalau paham :D)

[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

7 − 6 =